“Pakto, Pak Irman meninggal” demikian bunyi pesan via WhatsApp dari seorang teman. Kemarin, Sabtu 22 Juni 2019, sepulang dari sholat magrib di musholla perhatian saya langsung tertuju pada hape yang tiba² mengeluarkan nada notifikasi tanda ada pesan masuk kotadi WhatsApp. Dan pesan itulah yang membuat jantung ini serasa berhenti sesaat untuk berdenyut.

Irman meninggal ? Rasa nggak percaya karena baru Selasa kemarin menengok beliau yg meskipun sakit namun Alhamdulillah menunjukkan perkembangan yang menggembirakan karena kondisinya semakin membaik. Namun yang namanya ajal, tak ada seorang pun yang tahu kapan akan datang.

Langsung saya menghubungi sang pengirim pesan untuk mengkonfirmasi berita tersebut. Malam itu juga sehabis sholat isya saya langsung menuju ke rumah duka.

Sepanjang perjalanan dengan menahan perasaan yg campur aduk, antara sedih (ditinggalkan seorang sahabat) , menyesal ( kenapa pada saat² terakhir tdk berada di dekatnya) dan perasaan² lain yang entah apa sebabnya. Terbayang kenangan² bersamanya.

Flashback

Irman Sonjaya, itulah nama lengkapnya. Kwitang, Jakarta Pusat 1994 . Pertama kali kenal dengan almarhum. Waktu itu saya mahasiswa baru yg sedang mengikuti OSPEK, dan almarhum adalah mahasiswa senior yang mengospek. Tentu saja perkenalan yg tidak begitu akrab, ya tahu sendiri lah bagaimana mahasiswa senior kepada mahasiswa junior apalagi dalam perpeloncoan. Yang ada hanyalah kata² keras, bentah², teriak² khas per-ospek-an. Dan setelah ospekpun kami tidak pernah ketemu lagi, karena beliau memang sudah lulus.

Dua tahun kemudian

Banjarbaru 24 Desember 1996. Pertama kali saya menginjakkan kami di Bumi Lambung Mangkurat, Kalimantan Selatan untuk memulai bekerja di tempat yang benar² baru. Tak dinyana, di sini saya bertemu kembali dengan Irman, tentu saja saat itu posisi almarhum sebagai pegawai senior. Rencana Allah memang sungguh indah. Allah mengirimkan seorang penyelamat bagi diri saya (-Baca sampai habis, nanti akan tahu penyelamatan apa yg saya maksud) dengan skenario yg tak pernah terbayangkan sebelumnya.

Sebagaimana pegawai baru, lagi² saya ‘diospek’ oleh pak Irman. Tapi saya tidak merasa kesel sedikitpun, karena menurut saya itu hal yg wajar ketika seorang pegawai baru harus digojlok untuk melatih mental, bagaimana menghadapi dunia kerja yg sesungguhnya. Justru dengan itu saya mendapat banyak pelajaran yg berharga dan positif tentunya. Jadi ya enjoy aja manakala malam² disuruh belikan nasi goreng atau rokok misalnya.

Seiring perjalanan waktu akhirnya kami saling memahami karakter masing². Tak ada manusia yg sempurna. Dengan segala kelebihan dan kekurangan kami adalah satu tim kerja, karena memang satu unit kerja. Tak ada lagi istilah pegawai senior maupun junior. Kami harus kompak, itulah prinsip yg kami pegang.

Kenangan suka dan duka

Sebagaimana warna-warni kehidupan, tentu ada kenangan suka maupun duka. Sepanjang 1996 hingga 2007? sebelum Irman dipindahtugaskan ke Balikpapan, banyak kenangan² bersamanya, tentu tidak semuanya saya ingat dan tidak semuanya bisa diceritakan di sini

Mei 1998. Kala itu pas masa² kampanye jelang pemilu. Ada tragedi kelabu di Banjarmasin, yakni bentrok massa kampanye antar pendukung parpol yg berbeda (sejarah tentang ini silakan telusuri di google).

Saya akan ceritakan yang berhubungan dengan kenangan saya dengan Irman. Malam itu kami sedang berada di sebuah wartel (maklumlah jaman dulu untuk bisa nelpon interlokal yg murah harus nunggu malam). Tiba² ada serombongan anak2 muda yg beringas, mabok, sebagian menggunakan kaosnya untuk menutup mukanya menyelonong masuk ke wartel dan mengamuk dengan menghancurkan kaca² jendela dan bilik wartel yg ada. Dalam kondisi terjepit tidak ada pilihan bagi kami waktu itu kalau tidak kabur ya melawan, namun mengingat jumlah yg tidak sebanding kami berusaha untuk kabur. Namun apa daya kami dihalang²i. Salah seorang dari mereka mengayunkan balok kayu Ulin ke kepala saya. Saat itulah pertolongan Allah datang melalui Pak Irman. Melihat saya dalam bahaya, pak Irman menangkis balok kayu yg nyaris menghantam kepala saya, menendang orang tersebut dan setengah menyeret saya, Pak Irman mengajak saya kabur menyelamatkan diri. Itulah momen yg tak pernah saya lupakan sepanjang hidup saya. Irman lah yang menyelamatkan saya. Tentu saja semua ini atas kehendak Allah. Di tempat persembunyian baru saya tahu ternyata tangan beliau sobek dan harus di jahit. Kira² dua Minggu setelah kejadian itu, ada berita bahwa para pelaku kejahatan telah tertangkap. Dan kami berdua ikut menjadi saksi dalam proses persidangan.

Tanpa sadar mata ini berlinang air mata. Lalu benakku melayang pada peristiwa 1999 ketika kami berdua mudik ke Jawa naik kapal laut. Dulu tiket pesawat mahal banget. Eh sama ya sekarang juga mahal. Sudahlah naik kapal tidak dapat tempat duduk pula. Benar² pengalaman yg mengharukan, tapi asyik juga untuk dikenang. Karena tidak dapat tempat duduk di deck, akhirnya kami hanya tidur beralas koran di deck paling atas, tentu saja beratapkan langit. Kebayang bagaimana dinginnya angin laut di malam hari dan panasnya kalau siang hari. Apalagi kalau tiba² hujan, akhirnya kami hanya berusaha mencari tempat yg sedikit terlindung dari hujan.

Sampai Surabaya, saya berencana langsung melanjutkan perjalanan ke Jogja, namun saat itu saya diajak mampir dulu ke rumah Irman di Sidoarjo. Yang rencananya hanya mampir sejenak, akhirnya jadi nginap karena saat itu Sidoarjo diguyur hujan lebat bahkan banjir di komplek rumah Irman. Itulah pertama kali saya kenal keluarga Irman. Kenal papanya dan mamahnya (belakangan saking akrabnya kami memanggilnya Mayang)

Teringat juga kenangan ketika momen lebaran kita silaturahmi ke kawan² hingga ke Banjarmasin. Saking asyiknya dan punya target pokoknya semua harus didatangi sehingga tak peduli waktu sudah larut malam. Jam 10 malam kami masih mengetok rumah kawan yg tentu saja sudah pada tidur. Pokoknya ketok terus pintunya sampai bangun. Jam 2 dini hari kami baru pulang. Bayangkan silaturahmi ke rumah orang sampai jam 2. Nahasnya malam itu kami kebocoran ban sepeda motor. Mana ada tukang tambal ban yg buka jam segini, pikir kami waktu itu.

Kenangan lainnya lagi, entah tahun berapa, sudah lupa. waktu itu malam² ada yg mengetok kamar saya. Dengan kesadaran yg belum pulih karena baru bangun tidur saya membuka pintu kamar untuk memastikan siapa yang malam² masih mencari saya. Begitu pintu saya buka sebuah benda tiba² menimpa kepala saya. Ah sialan. Ada yg ngerjain saya dengan telur dipecahin ke kepala. Ah dasar iseng. Seumur² baru sekali itu ada orang yg peduli dengan ulang tahun saya. Dan orang yg mendalangi semua itu adalah Irman tentu saja dengan teman² yang lainnya. Antara kesel tapi juga seneng karena ada yg peduli dengan ulang tahun saya. Meski seumur² memang saya sendiri tak pernah merayakan ulang tahun, namun hati siapa yg tak suka manakala ada teman² yg begitu peduli. Akhirnya malam itu juga untuk membalas perhatian mereka saya harus keluar mencari sesuatu yg bisa dimakan dan dinikmati bersama². Ah alangkah indahnya kenangan persahabatan itu. Awas ya nanti kubalas lho, kata saya saat itu sambil menikmati roti pisang bersama².

Dan 2 bulan kemudian saya benar² membalasnya. Ah dasar masa² ‘jahiliyah’. Suka banget ngisengin orang.

Pas tanggal 10 Juni, ulang tahun Irman, saya merencanakan ‘balas dendam’ he he. Sembunyi di dekat kamar mandi menunggu dia pulang kerja. Begitu dia muncul seember air bekas cucian sukses mengguyur sekujur kepalanya. “Satu sama kata saya, ini untuk telor ceplok dua bulan yang lalu ya”. Tak ada dendam, justru bahagia. Itulah kebahagian masa2 muda yg kami lalui bersama. Sama² hidup di perantauan, jadinya ya teman kita anggap saudara. Makan bersama, jalan² bersama. Bahkan pernah juga kami berdua nonton konser Slank bersama di Banjarmasin. Yg ini jangan ditiru ya. Masa² jahiliyah.

Berbeda dengan saya yg sejak 1996 tidak pernah pindah kerja. Irman sudah melanglang buana. Selepas dari Banjarbaru ditugaskan ke Balikpapan, setelah itu ke Tanjung Selor, balik lagi ke Banjarbaru, kemudian terakhir di Padang Sumatera Barat. Sehingga intensitas pertemuan tentu saja semakin berkurang, ditambah lagi dengan kesibukan dan urusan keluarga masing².

Sekitar awal April mendapat kabar Irman sakit, saat itu posisinya masih di Padang. Melihat status facebooknya saat berobat ke Malaysia. Dan Awal puasa tahun ini (Mei 2019) mendapat kabar Irman sakit parah dan harus menjalani perawatan di Banjarbaru. Hingga kemarin sore ketika akhirnya sahabatku Irman dipanggil menghadap ke haribaannya. Selamat jalan sobat. Inna lillahi wa Inna ilaihi Raji’un. Allahumaghfirlahu warhamhu wa’afihi wa’fu’anhu. Sunggu kita ini adalah milik Allah semata. Dan sungguh kita semua akan kembali kepada-Nya. Kapan waktunya? Allahu a’lam. Hanya Allah yang tahu. Bukan masalah kapan waktunya tiba yg harus kita pikirkan. Tapi bekal apa yg sudah kita siapkan manakala saatnya panggilan itu tiba.

Selamat jalan sobat. Insyaallah Khusnul khatimah. Amien.

Banjarbaru, 23 Juni 2019

Older Posts »

Kategori

%d blogger menyukai ini: