Oleh: Refa | 31 Mei 2008

Korupsi, Adakah Solusi ?


Di Indonesia, korupsi agaknya telah menjadi persoalan

yang amat kronis. Ibarat penyakit, korupsi dikatakan

telah menyebar luas ke seantero negeri dengan jumlah

yang dari tahun ke tahun cenderung semakin meningkat.

Hasil riset yang dilakukan oleh berbagai lembaga, juga

menunjukkan bahwa tingkat korupsi di negeri yang

penduduknya mayoritas muslim ini termasuk yang paling

tinggi di dunia.

Korupsi tentu saja sangat merugikan keuangan negara. Di

samping itu, korupsi yang biasanya diiringi dengan

kolusi, juga membuat keputusan yang diambil oleh pejabat

negara menjadi tidak optimal. Korupsi juga makin

menambah kesenjangan akibat memburuknya distribusi

kekayaan. Bila sekarang kesenjangan kaya dan miskin

sudah demikian menganga, maka korupsi makin melebarkan

kesenjangan itu karena uang terdistribusi secara tidak

sehat (tidak mengikuti kaedah-kaedah ekonomi sebagaimana

mestinya). Koruptor makin kaya, rakyat yang miskin makin

miskin. Akibat lainnya, karena uang gampang diperoleh,

sikap konsumtif jadi terangsang. Tidak ada dorongan ke

pola produktif, sehingga timbul inefisiensi dalam

pemanfaatan sumber daya ekonomi.

Sesungguhnya terdapat niat cukup besar untuk mengatasi

korupsi. Bahkan telah dibuat satu tap MPR khusus tentang

pemberantasan KKN, tapi mengapa tidak kunjung berhasil?

Tampak nyata bahwa penanganan korupsi tidak dilakukan

secara komprehensif, sebagaimana ditunjukkan oleh

syariat Islam berikut:

Pertama, sistem penggajian yang layak. Aparat pemerintah

harus bekerja dengan sebaik-baiknya. Dan itu sulit

berjalan dengan baik bila gaji tidak mencukupi. Para

birokrat tetaplah manusia biasa yang mempunyai kebutuhan

hidup serta kewajiban untuk mencukup nafkah keluarga.

Agar bisa bekerja dengan tenang dan tidak mudah tergoda

berbuat curang, kepada mereka harus diberikan gaji dan

tunjangan hidup lain yang layak. Berkenaan dengan

pemenuhan kebutuhan hidup aparat pemerintah, Rasul dalam

hadits riwayat Abu Dawud berkata, “Barang siapa yang

diserahi pekerjaan dalam keadaan tidak mempunyai rumah,

akan disediakan rumah, jika belum beristri hendaknya

menikah, jika tidak mempunyai pembantu hendaknya ia

mengambil pelayan, jika tidak mempunyai hewan tunggangan

(kendaraan) hendaknya diberi. Dan barang siapa mengambil

selainnya, itulah kecurangan (ghalin)”.

Kedua, larangan menerima suap dan hadiah. Hadiah dan

suap yang diberikan seseorang kepada aparat pemerintah

pasti mengandung maksud agar aparat itu bertindak

menguntungkan pemberi hadiah. Tentang suap Rasulullah

berkata, “Laknat Allah terhadap penyuap dan penerima

suap” (HR. Abu Dawud). Tentang hadiah kepada aparat

pemerintah, Rasul berkata, “Hadiah yang diberikan kepada

para penguasa adalah suht (haram) dan suap yang diterima

hakim adalah kufur” (HR. Imam Ahmad). Suap dan hadiah

akan berpengaruh buruk pada mental aparat pemerintah.

Aparat bekerja tidak sebagaimana mestinya. Di bidang

peradilan, hukum ditegakkan secara tidak adil atau

cenderung memenangkan pihak yang mampu memberikan hadiah

atau suap.

Ketiga, perhitungan kekayaan. Untuk menjaga dari berbuat

curang, perhitungan kekayaan para pejabat harus

dilakukan di awal dan di akhir jabatannya. Bila terdapat

kenaikan yang tidak wajar, yang bersangkutan harus

membuktikan bahwa kekayaan yang dimilikinya itu

benar-benar halal.Cara inilah yang sekarang dikenal

dengan istilah pembuktian terbalik yang sebenarnya

sangat efektif mencegah aparat berbuat curang. Tapi

anehnya cara ini ditentang untuk dimasukkan dalam

perundang-undangan.

Keempat, teladan pemimpin. Khalifah Umar menyita sendiri

seekor unta gemuk milik puteranya, Abdullah bin Umar,

karena kedapatan digembalakan bersama di padang rumput

milik Baitul Mal Negara. Hal ini dinilai Umar sebagai

bentuk penyalahgunaan fasilitas negara. Demi menjaga

agar tidak mencium bau secara tidak hak, khalifah Umar

bin Abdul Azis sampai menutup hidungnya saat membagi

minyak kesturi kepada rakyat. Dengan teladan pemimpin,

tindak penyimpangan akan mudah terdeteksi sedari dini.

Penyidikan dan penyelidikan tindak korupsi pun tidak

sulit dilakukan. Tapi bagaimana bila justru korupsi

dilakukan oleh para pemimpin? Semua upaya apa pun

menjadi tidak ada artinya sama sekali.

Kelima, hukuman setimpal. Pada galibnya, orang akan

takut menerima risiko yang akan mencelakakan dirinya.

Berfungsi sebagai pencegah (zawajir), hukuman setimpal

atas koruptor diharapkan membuat orang jera dan kapok

melakukan korupsi. Dalam Islam, koruptor dikenai hukuman

ta’zir berupa tasyhir (pewartaan), penyitaan harta dan

hukuman kurungan, bahkan sampai hukuman mati.

Keenam, pengawasan masyarakat. Masyarakat dapat berperan

menyuburkan atau menghilangkan korupsi. Masyarakat yang

bermental instan akan cenderung menempuh jalan pintas

dalam berurusan dengan aparat dengan tak segan memberi

suap dan hadiah. Sementara masyarakat yang mulia akan

turut mengawasi jalannya pemerintahan dan menolak aparat

yang mengajaknya berbuat menyimpang. Demi menumbuhkan

keberanian rakyat mengoreksi aparat, khalifah Umar di

awal pemerintahannya menyatakan, “Apabila kalian

melihatku menyimpang dari jalan Islam, maka luruskan aku

walaupun dengan pedang”. Dengan pengawasan masyarakat,

korupsi menjadi sangat sulit dilakukan. Bila ditambah

dengan teladan pemimpin, hukuman yang setimpal, larangan

pemberian suap dan hadiah, pembuktian terbalik dan gaji

yang mencukupi, insya Allah korupsi dapat diatasi dengan

tuntas.

Inilah pentingnya seruan penerapan syariat Islam guna

menyelesaikan segenap problematika yang dihadapi negeri

ini, termasuk dalam pemberantasan korupsi. Syariah

membawa rahmah, insya Allah…

 


Bagaimana tanggapan anda ?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: