Oleh: Refa | 31 Mei 2008

Penghalang Do’a


 

Banyak orang yang berdoa melakukan perbuatan yang menyebabkan doa mereka
ditolak dan tidak dikabulkan, karena tidak terpenuhinya syarat-syarat
maka doa tersebut tidak dikabulkan.

 

Adapun syarat-syarat yang terpenting antara lain.

[1]. Ikhlas

Sebagaimana firman Allah.

“Artinya : Maka sembahlah Allah dengan memurnikan ibadah kepada-Nya”.
[Ghafir : 14]

Ibnu Katsir mengatakan bahwa setiap orang yang beribadah dan berdoa
hendaknya dengan ikhlas serta menyelisihi orang-orang musyrik dalam cara dan
madzhab mereka.[Tafsir Ibnu Katsir 4/73]

Dari Abdurrahman bin Yazid bahwa dia berkata bahwasanya Ar-Rabii’ datang
kepada ‘Alqamah pada hari Jum’at dan jika saya tidak ada dia memberikan
kabar kepada saya, lalu ‘Alqamah bertemu dengan saya dan berkata : Bagaimana
pendapatmu tentang apa yang dibawa oleh Rabii’.? Dia menjawab : “Berapa
banyak orang yang berdoa tetapi tidak dikabulkan ? Karena Allah tidak
menerima doa kecuali yang ikhlas”. Saya berkata : Bukankah itu telah
dikatakannya ? Dia berkata : Abdullah mengatakan bahwa Allah tidak mendengar
doa seseorang yang berdoa karena sum’ah, riya’ dan main-main tetapi Allah
menerima orang yang berdoa dengan ikhlas dari lubuk hatinya”. [Imam
Al-Bukhari dalam Adabul Mufrad 2/65 No. 606. Dishahihkan sanadnya oleh
Al-Albani dalam Shahih Adabul Mufrad No. 473. Nakhilah maksudnya adalah
iikhlas, Masma’ adalah orang yang beramal untuk dipuji atau tenar].

Termasuk syarat terkabulnya doa adalah tidak beribadah dan tidak berdoa
kecuali kepada Allah. Jika seseorang menujukan sebagian ibadah kepada selain
Allah baik kepada para Nabi atau para wali seperti mengajukan permohonan
kepada mereka, maka doanya tidak terkabulkan dan nanti di akhirat termasuk
orang-orang yang merugi serta kekal di dalam Neraka Jahim bila dia meninggal
sebelum bertaubat.

[2] & [3]. Tidak Berdoa Untuk Sesuatu Dosa Atau Memutuskan Silaturrahmi

Dari Abu Said bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

“Artinya : Apabila seorang muslim berdoa dan tidak memohon suatu yang
berdosa atau pemutusan kerabat kecuali akan diakabulkan oleh Allah salah
satu dari tiga ; Akan dikabulkan doanya atau ditunda untuk simpanan di
akhirat atau menghilangkan daripadanya keburukan yang semisalnya”.[Musnad
Ahmad 3/18. Imam Al-Mundziri mengatakannya Jayyid (bagus) Targhib 2/478].

Syaikh Al-Mubarak Furi berkata bahwa yang dimaksud “tidak berdoa untuk suatu
yang berdosa” artinya berdoa untuk kemaksiatan suatu contoh : “Ya Allah
takdirkan aku untuk bisa membunuh si fulan”, sementara si fulan itu tidak
berhak dibunuh atau “Ya Allah berilah aku rizki untuk bisa minum khamer”
atau “Ya Allah pertemukanlah aku dengan seorang wanita untuk berzina”. Atau
berdoa untuk memutuskan silaturrahmi suatu contoh : “Ya Allah jauhkanlah aku
dari bapak dan ibuku serta saudaraku” atau doa semisalnya. Doa tersebut
pengkhususan terhadap yang umum. Imam Al-Jazri berkata bahwa memutuskan
silaturahmi bisa berupa tidak saling menyapa, saling menghalangi dan tidak
berbuat baik dengan semua kerabat dan keluarga.

[4]. Hendaknya Makanan Dan Pakaian Dari Yang Halal Dan Bagus

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Rasulullah Shallallahu
‘alaihi wasallam menyebutkan :

“Artinya : Seorang laki-laki yang lusuh lagi kumal karena lama bepergian
mengangkat kedua tanganya ke langit tinggi-tinggi dan berdoa : Ya Rabbi, ya
Rabbi, sementara makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram dan
dagingnya tumbuh dari yang haram, maka bagaimana doanya bisa terkabulkan.?”
[Shahih Muslim, kitab Zakat bab Qabulus Sadaqah 3/85-86].

Imam An-Nawawi berkata bahwa yang dimaksud lama bepergian dalam rangka
beribadah kepada Allah seperti haji, ziarah, bersilaturrahmi dan yang
lainnya.

Pada zaman sekarang ini berapa banyak orang yang mengkonsumsi makanan,
minuman dan pakaian yang haram baik dari harta riba, perjudian atau harta
suap yang yang lainnya. [Syarh Shahih Muslim 7/100].

Ahli Syair berkata.

“Kita berdoa dan menyangka doa terangkat padahal dosa menghadangnya lalu doa
tersebut kembali. Bagaimana doa kita bisa sampai sementara dosa kita
menghadang di jalannya”. [Al-Azhiyah dalam Ahkamil Ad’iyah hal. 141].

[5]. Tidak Tergesa-gesa Dalam Menunggu Terkabulnya Doa

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Rasulullah Shallallahu
‘alaihi wasallam bersabda.

“Artinya : Akan dikabulkan permintaan seseorang di antara kamu, selagi tidak
tergesa-gesa, yaitu mengatakan : Saya telah berdoa tetapi belum dikabulkan”.
[Shahih Al-Bukhari, kitab Da’awaat 7/153. Shahih Muslim, kitab Do’a wa
Dzikir
8/87]

Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata : Yang dimaksud dengan sabda Nabi Shallallahu
‘alaihi wa sallam : “Saya berdoa tetapi tidak dikabulkan”, Ibnu Baththaal
berkata bahwa seseorang bosan berdoa lalu meninggalkannya, seakan-akan
mengungkit-ungkit dalam doanya atau mungkin dia berdoa dengan baik sesuai
dengan syaratnya, tetapi bersikap bakhil dalam doanya dan menyangka Alllah
tidak mampu mengabulkan doanya, padahal Dia dzat Yang Maha Mengabulkan doa
dan tidak pernah habis pemberian-Nya. [Fathul Bari 11/145].

Syaikh Al-Mubarak Furi berkata bahwa Imam Al-Madzhari berkata : Barangsiapa
yang bosan dalam berdoa, maka doanya tidak terkabulkan sebab doa adalah
ibadah baik dikabulkan atau tidak, seharusnya seseorang tidak boleh bosan
beribadah. Tertundanya permohonan boleh jadi belum waktunya doa tersebut
dikabulkan karena segala sesuatu telah ditetapkan waktu terjadinya, sehingga
segala sesuatu yang belum waktunya tidak akan mungkin terjadi, atau boleh
jadi permohonan tersebut tidak terkabulkan dengan tujuan Allah mengganti doa
tersebut dengan pahala, atau boleh jadi doa tersebut tertunda pengabulannya
agar orang tersebut rajin berdoa sebab Allah sangat senang terhadap orang
yang rajin berdoa karena doa memperlihatkan sikap rendah diri, menyerah dan
merasa membutuhkan Allah. Orang sering mengetuk pintu akan segera dibukakan
pintu dan begitu pula orang yang sering berdoa akan segera dikabulkan
doanya. Maka seharusnya setiap kaum Muslimin tidak boleh meninggalkan
berdoa. [Mir’atul Mafatih 7/349].

Syubhat.

Allah berfirman.

“Artinya : Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu”. (Ghafir
: 60).

Banyak orang yang berdoa tetapi tidak dikabulkan, kalau seandainya ayat
tersebut sesuai dengan zhahirnya pasti tidak mungkin doa tersebut ditolak.

Hafizh Ibnu Hajar menjawab bahwa setiap orang yang berdoa pasti terkabulkan
tetapi dengan bentuk pengkabulan yang berbeda-beda, terkadang apa yang
diminta terkabulkan, atau terkadang diganti dengan sesuatu pemberian lain,
sebagaimana hadits dari ‘Ubadah bin Shamit bahwasanya NabiShallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda.

“Artinya : Tidak ada seorang muslim di dunia berdoa memohon suatu permohonan
melainkan Allah pasti mengabulkannya atau menghilangkan daripadanya
keburukan yang semisalnya”. [Fathul Bari 11/98].

[6] &[ 7] Hendaknya Berdoa Dengan Hati Yang Khusyu’ Dan Yakin Bahwa Doanya
Pasti Akan Dikabulkan

Dari Abdullah bin Amr bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda.

“Artinya : Hati itu laksana wadah dan sebahagian wadah ada yang lebih besar
dari yang lainnya, maka apabila kalian memohon kepada Allah, maka mohonlah
kepada-Nya sedangkan kamu merasa yakin akan dikabulkan karena sesungguhnya
Allah tidak akan mengabulkan doa dari hati yang lalai”. [Musnad Ahmad 2/177,
Mundziri dalam kitab Targhib 2/478, Al-Haitsami dalam Majma Zawaid 10/148]

Syaikh Al-Mubarak Furi berkata bahwa yang dimaksud dengan sabda Nabi : ” dan
kalian yakin akan dikabulkan”, adalah pengharusan artinya berdoalah
sementara kalian bersikap dengan sifat yang menjadi penyebab terkabulnya
doa. Imam Al-Madzhari berkata bahwa hendaknya orang yang bedoa merasa yakin
bahwa Allah akan mengabulkan doanya sebab sebuah doa tertolak mungkin
disebabkan yang diminta tidak mampu mengabulkan atau tidak ada sifat
dermawan atau tidak mendengar terhadap doa tersebut, sementara kesemuanya
sangat tidak layak menjadi sifat Allah. Allah adalah Dzat Yang Maha Pemurah,
Maha Tahu dan Maha Kuasa yang tidak menghalangi doa hamba-Nya. Jika seorang
hamba tahu bahwa Allah tidak mungkin menghalangi doa hamba-Nya, maka
seharusnya kita berdoa kepada Allah dan merasa yakin bahwa doanya akan
dikabulkan oleh Allah.

Seandainya ada orang yang mengatakan bahwa kita dianjurkan agar kita selalu
yakin bahwa doa kita akan terkabulkan dan keyakinan itu akan muncul jika doa
pasti dikabulkan, sementara kita melihat sebagian orang terkabul doanya dan
sebagian yang lainnya tidak terkabulkan, bagaimana kita bisa yakin ?

Jawab.
Orang yang berdoa pasti terkabulkan dan pemintaannya pasti diberikan kecuali
bila dalam catatan azali Allah doa tersebut tidak mungkin dikabulkan akan
tetapi dia akan dihindarkan oleh Allah dari musibah semisalnya dengan
permohonan yang dia minta sebagaimana yang telah disebutkan dalam hadits.
Atau diberi ganti yang berupa pahala dan derajat di akhirat. Karena doa
adalah ibadah dan barangsiapa yang beribadah dengan baik, maka tidak mungkin
akan dihalangi dari pahala.

Yang dimaksud dengan sabda Nabi : “dari hati yang lalai” adalah hati yang
berpaling dari Allah atau berpaling dari yang dimintanya. [Mir’atul Mafatih
7/360-361].

[Disalin dari buku Jahalatun nas fid du’a, edisi Indonesia Kesalahan Dalam
Berdo’a oleh Ismail bin Marsyud bin Ibrahim Ar-Rumaih, hal 158-167, terbitan
Darul Haq, penerjemah Zaenal Abidin, Lc.]


Responses

  1. Wiiiii…salut deh salut…

    Thanks

    Suka


Bagaimana tanggapan anda ?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: