Oleh: Refa | 13 Juli 2008

IRONI DEMOKRASI


Indonesia? negeri penuh ironis. Sumber daya alamnya melimpah, namun mayoritas rakyat hidup sengsara. Harga minyak melonjak, negeri penghasil minyak ini justru terperosok dalam berbagai kesulitan akibat kelangkaan minyak.

Lebih ironis lagi, di saat 23,63 juta rakyat terancam kelaparan, minimal seorang calon pemimpin rakyat akan mengeluarkan 100 milyar untuk biaya kampanye pemilu 2009. Ketika? para peserta pesta demokrasi mulai bermandi uang, tak sedikit rakyat berputus asa dari hiruk pikuk dunia. Kasus bunuh diri rakyat kecil meningkat tajam. Hampir semua karena himpitan ekonomi dan beban hidup yang tak tertanggungkan.

Bila mengikuti garis kemiskinan mutlak versi Bank Dunia, maka hampir 126 juta jiwa penduduk Indonesia telah jatuh miskin. Angka kemiskinan diprediksi akan semakin melonjak bila kenaikan harga terus terjadi.? Masalahnya, kenaikan BBM sepertinya belum akan berhenti. Indonesia masih berusaha mengejar harga BBM agar setara dengan harga internasional. Kenaikan harga BBM selalu memicu kenaikan harga-harga bahan pokok lainnya.

Konon keikutsertaan rakyat pada pesta akbar demokrasi 2009 akan menyurut drastis. Dalam pilkada saja golput berkisar antara 35% hingga 48%. Angka yang mengungguli hasil yang dicapai calon terpilih. Itu karena mereka sudah tak bisa berharap pada calon-calon pemimpin manapun.

Bagaimana rakyat tak percaya lagi kepada para pemimpin? Biaya Pilgub Jabar saja menghabiskan lebih dari 500 milyar rupiah. Di saat rakyat harus mengencangkan ikat pinggang menahan lapar, dengan mudahnya uang terbuang hanya untuk menjual janji-janji kosong.

Lantas berapa sih uang yang digelontorkan para kontestan pemilu 2009 yang saat ini mulai rajin memperkenalkan wajahnya? Mulai dari layar kaca, baliho raksasa hingga jeda iklan di bioskop layar lebar? Dari sini saja tak sulit membaca kadar kepemimpinan elit politik Indonesia saat ini.

“Biar tak pusing sendiri, Anda sebaiknya tak usah tanya berapa uang yang saya keluarkan. Toh, Anda tak akan mampu menghitung,” ujar Soetrisno kepada kader PAN. “Kalau banyak orang kesulitan mencari uang, alhamdulillah, saya diberi kesempatan untuk terus mencari celah mengeluarkan uang,” ucap pengusaha ini (Jawapos, 26/5).

Tapi memang inilah negeri demokrasi. Hal-hal yang ironi memang kudu jadi bumbu. Para demokrat bilang, kita salah memilih bentuk demokrasi, harusnya kita mencari bentuk yang cocok bagi negeri ini.

Masalahnya demokrasi memang tak punya bentuk. Ia hanya alat bagi Kapitalis untuk menginvasi sebuah negeri dengan bahasa yang manis. Ia hanya basa basi bagi para pemimpin yang tak punya perasaan. Ia juga hanya kendaraan bagi para politisi muslim yang ragu dengan ideologinya.

Melawannya tentu harus dengan ideologi yang jelas dan pasti. Bagi Indonesia dengan mayoritas muslim, apa lagi kalau bukan Islam. Masalahnya apakah keyakinan Islam sebagai ideologi yang seharusnya bisa menjadi solusi ini sudah menghunjam pada diri kita?? (GAULISLAM.COM)


Bagaimana tanggapan anda ?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: