Oleh: Refa | 23 Juli 2008

Syariah adalah Masa Depan Indonesia


Beberapa penelitian di negeri ini menunjukkan bahwa masyarakat semakin menginginkan tegaknya syariat Islam. Setidaknya, Pusat Penelitian Islam dan Masyarakat (PPIM) Universitas Islam Negeri Jakarta pada penelitiannya tahun 2002 mencatat terdapat 71 persen responden yang menginginkan syariat dijadikan sumber hukum di negeri ini. Setahun kemudian, meningkat menjadi 73 persen. Bahkan penelitian Shariah Economic and Management (SEM) Institute di awal 2008 mendapati angka 83 persen warga masyarakat di Indonesia yang setuju syariat dijadikan hukum negara.

Prosentase yang semakin meningkat ini menunjukkan bahwa masa depan Indonesia ada pada syariat Islam. Hal tersebut disampaikan oleh Juru Bicara Hizbut Tahrir Indonesia Ismail Yusanto pada diskusi Forum Kajian Sosial Kemasyarakatan (FKSK) dengan tema “Membangun Poros Islam pada Pemilu 2009” di Jakarta, Senin (21/7).

“Preferensi masyarakat Indonesia terhadap syariah cukup tinggi. Sekarang tinggal bagaimana hal ini dapat diwujudkan secara nyata dalam kehidupan bermasyarakat,” ujar Ismail. Menurutnya, perjuangan penegakan syariat ini harus diikuti dengan aktivitas politik. Partai politik Islam punya tugas untuk secara konsisten memperjuangkannya.

“Kita harus tunjukkan bahwa Islam adalah satu-satunya jalan bagi penyelesaian seluruh masalah di negeri ini. Bukan yang katanya nasionalis tapi faktanya menjerumuskan bangsa dan negara ini pada kerusakan,” lanjutnya.

Namun, permasalahan timbul ketika preferensi terhadap syariat yang tinggi tidak diikuti dengan tingginya pula perolehan suara partai-partai Islam dalam Pemilu. Ismail mengatakan masalah ini disebabkan ketidakpercayaan masyarakat pada partai Islam yang ada pada saat ini. “Problemnya terjadi ketika masyarakat sudah tidak percaya lagi pada partai Islam. Masyarakat menganggap partai yang ada tidak dapat membawa aspirasinya, sehingga mereka tidak memilih partai-partai itu,” ungkapnya.

Oleh karena itu, Ismail memberikan saran kepada partai Islam agar menjadi partai Islam yang sesungguhnya, yaitu partai Islam yang mempunyai agenda menegakkan sistem syariah yang akan menggantikan dan menghancurkan sistem sekular saat ini.

Di sisi lain, Ismail juga mengingatkan bahwa system demokrasi-sekular sesungguhnya tidak memberikan ruang yang cukup luas bagi perjuangan penegakan syariat Islam. Beberapa pengalaman di negeri muslim lain menunjukkan ketika partai Islam memenangi Pemilu justru disingkirkan. “Kita sesungguhnya juga layak untuk tidak mempercayai mekanisme demokrasi,” ujarnya. Ismail meminta partai Islam mengambil pelajaran dari Partai FIS di Aljazair yang juga memperjuangkan syariat dalam sistem demokrasi di sana. Juga pada Hamas di Palestina yang telah memenangi Pemilu namun dihalang-halangi dalam menjalankan pemerintahannya.

Menanggapi soal wacana poros Islam yang hendak dibangun pada Pemilu 2009, Ismail menyatakan organisasinya mendukung ukhuwah partai-partai Islam yang ada. “Hizbut Tahrir bercita-cita mendirikan Khilafah. Substansi Khilafah adalah syariah dan ukhuwah. Hizbut Tahrir tentu sangat mendukung upaya-upaya menjalin ukhuwah di tengah-tengah umat,” tegasnya. [ihsan/www.suara-islam.com]


Bagaimana tanggapan anda ?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: