Oleh: Refa | 13 September 2008

Puasa Penuh Tawa


Waktu sahur, sebuah keluarga menonton acara TV. Di layar kaca Prof Dr Quraish Shihab sedang menerangkan tafsir Alquran dengan runtut, sederhana, tapi ilmiah. Tak lama kemudian, oleh salah satu anggota keluarga minta saluran diganti dan disetujui yang lain.

Acara berganti didominasi para pelawak dan kebetulan sedang mengadakan kuis yang memberi hadiah jutaan rupiah kepada pemirsa yang menjawab benar. Lengkap dengan tertawaan panjang mereka.

Memang acara di layar kaca kita jadi semarak. Acara sahur tidak semata suara kentongan dan ronda anak-anak remaja yang membangunkan kita seperti umumnya bulan puasa di kampung-kampung dulu. Ada pilihan yang tak kalah menarik dan membikin kita yang menjalankan rukun Islam ini jadi tidak terkantuk-kantuk.

Tapping
Fenomena berpuasa kita ini sekarang sungguh luar biasa pada era digital. Zaman sudah berubah cepat. Dulu jangan harap kita bisa menikmati acara TV yang disiarkan secara langsung.

Pada zaman TVRI bersiaran secara tunggal, semua acara tapping alias rekaman dan tidak bisa langsung disiarkan. Khawatir ada kesalahan dan yang lebih berbahaya isinya yang bisa gawat apabila nyelonong karena tidak sejalan dengan kebijakan pemerintah Orde Baru.

Sekarang dengan belasan stasiun TV yang disiarkan secara nasional bisa ikut kuis per telepon. Bahkan, pemirsa menjadi narasumber juga untuk melaporkan sebuah kejadian alias sebagai citizen journalism.

Pertanyaannya kemudian, apakah acara TV kita dalam bulan puasa juga menjadi lebih maju? Tunggu dulu!

Tidak dengan sendirinya berbanding lurus. Mengapa? Jika dalam menjalankan puasa kita diminta untuk menambah dengan bacaan ayat-ayat suci, beribadah lebih khusyuk dan mendekatkan pada Tuhan, maka acara ha ….ha…. seperti sahur yang ditawarkan TV menjadi kebalikan.

Paradigma pengelola TV sekarang tentu berbeda jauh dengan dulu. Sekarang mereka memuja yang namanya rating yang acap menjadi parameter kesuksesan acara. Singkatnya orientasinya iklan dan pemasukan rupiah untuk menutup biaya operasional yang tinggi.

Maka, tak usah heran apabila publik mendapatkan program di bulan puasa yang aneh bin ajaib dan cenderung sampah yang setara di seputar sahur itu. Dalam acara sahur kita, Anda tinggal memilih dan nyaris tak banyak berbeda satu stasiun dengan lainnya.

Yang ringan-ringan atau yang makin kencang tawanya makin menarik. Jika ada narasumber ahlinya (kiai atau ustadz), harus tunduk pada konsep yang memang sengaja dibuat enteng. Kilah pengelola, program sahur Ramadhan untuk menyemangati atau menemani pemirsanya agar tidak jatuh tertidur.

Maka, ada beberapa kiai atau narasumber yang kemudian merasa tidak usah tampil lagi saja. Terkadang terlecehkan secara tak langsung oleh para pelawak yang bertindak sebagai pembawa acara yang memang basisnya mengundang tawa.

Faktor lain, kehadiran sponsor program bukan iklan yang sporadis sebagai penggiring acara sahur atau acara Ramadhan menjadi cair dan tidak fokus. Sebentar-sebentar harus menyebutkan nama sponsor sehingga narasumber sering kewalahan menerangkan dalil sebuah konsep dan peristiwa Islam.

Mereka akhirnya narasumber yang cenderung latar belakangnya tidak sepiawai dan semumpuni Quraish Shihab. Apa boleh buat memang. Maka, terjadilah kompromi, ustadz-ustadz yang ilmunya seadanya ditampilkan.

Seorang teman produser TV mengatakan kepada penulis, ada seorang ustadz terkenal yang berkali-kali salah menyitir ayat ketika syuting di studio. Bukan saja tidak tepat ayat yang dikutip, tapi acap bolong-bolong lupa alias tidak lengkap.

Produser itu memang punya latar belakang beragama yang baik. Namun, karena tuntutan sponsor, ustadz sebagai narasumber itu tetap dipakai, the show must go on!

Para narasumber/kiai/ustadz di TV memang diharapkan memenuhi kriteria sebuah media pandang dengar. Diharapkan mereka seperti selebriti. Tampil cling dan sedap, asyik untuk dipandang mata.

Kita bisa bersetuju. Persoalannya jika ini menyangkut masalah ayat, tepatnya masalah fikih yang berkait dengan akidah, bisa repot. Umat yang mengikutinya bisa salah arah. Kecuali, hanya mendapatkan ha …. Ha…. berkepanjangan.

Kembali ke /khittah
Gus Solah, pemimpin pesantren Tebuireng, Jombang, menyebut acara Ramadhan di TV lebih banyak unsur hiburan dan dagangnya. Kata lain, hukum yang berlaku suplai dan permintaan.

Boleh jadi tidak, boleh jadi ya. Penonton TV yang tidak membayar tak punya daya tawar apa-apa. Tinggal menuruti yang tertayangkan. Bila tidak setuju, tinggal pencet remote control pindah saluran. Atau matikan. Beres.

Pada awal tulisan, ada pihak yang masuk kategori permintaan, yakni untuk tidak menonton acara yang dibawakan oleh Prof Shihab. Tidak ingin menonton acara berisi dan bergizi yang dianggap berat. Maka, lebih baik memilih yang mendatangkan tawa. Tidak penting benar apa artinya menambah wawasan keislamannya dalam bulan puasa. Jadi, alih-alih makin bertakwa, kemudaratan yang didapatkan.

Kita tidak mungkin pula menonton acara keagamaan di TV dengan pola yang membosankan dan membuat terkantuk-kantuk karenanya. Tidak ada istilah kembali ke khittah sebagaimana lazimnya para santri belajar kepada kiainya di pondok pesantren. Ini karena sifat media televisi bukan murni dakwah dan belajar secara ketat. Apabila salah telapak tangan disabet rotan atau bambu. Tidak. Unsurnya lebih ke tontonan, dengan tuntunan yang mengikuti. Termasuk acara serius dan bernas yang dikawal Prof Quraish Shihab tadi.

Alangkah indahnya jika acara Ramadhan di TV sejuk, populer, dan ada isinya. Dengan demikian pembelajaran murah serta mudah didapatkan oleh umat di mana pun. Ini mengingat televisi sudah menyebar hingga ke pelosok dan gunung-gunung. Tempat yang sulit dijangkau oleh ustadz yang sebagian mulai berlaku seperti selebriti minta bayaran tinggi dan tidak mau susah-susah mendatangi umatnya. [Republika Online]


Kategori

%d blogger menyukai ini: