Oleh: Refa | 27 Januari 2009

Sekali Lagi; GOLPUT HARAM ?


MUI mengeluarkan fatwa golput haram selama masih ada calon yang layak dipilih. Namun dengan fatwa tersebut MUI dinilai melanggengkan bobroknya sistem politik di Indonesia.
“Kalau mereka dilarang untuk golput justru menjustifikasi sistem politik yang tidak baik. Fatwa harusnya menganjurkan kepada kebaikan,” jelas pengamat politik Indobarometer M Qodari kepada detikcom, Senin (26/1/2009).
Qodari menjelaskan banyak masyarakat tidak memilih atau golput karena merasa aspirasinya tidak terwakili. Rendahnya angka keikutsertaan masyarakat dalam pemilu ini harusnya menjadi pelajaran bagi politisi untuk meningkatkan kinerjanya sehingga dipilih.
“Tapi kalau golput diharamkan maka parpol dan politisi tidak mendapat pelajaran karena angka keikutsertaan pemilih tetap tinggi,” jelas Qodari.
Terlepas dari adanya unsur politis atau tidak dalam fatwa ini, Qodari melihat MUI kurang melihat realitas di lapangan. Menurutnya lagi dengan fatwa ini juga keuntungan belum tentu berpihak pada partai Islam saja.
“Golput terjadi tidak di partai Islam saja tapi juga di partai nasionalis. Saya kira merata,” pungkasnya. (detik.com, 26/01/09)

Artikel Artikel Terkait :
1. Seharusnya fatwa haram terlibat dalam sistem sekuler
2. Fatwakanlah Wajibnya menerapkan Syariat Islam
3. Pilihlah Partai Islam Ideologis
4.
Harapan Umat Pada Partai Islam yang Memperjuangkan Syariat
5. Fatwa golput Haram, Cerminan Kepanikan Elit Partai
6. Partai Islam Jangan Hanya Basa Basi
7. Ulama, Khilafah, Agama, Negara
8. Siapa Ulama Itu ?
9. Kedudukan Fatwa dalam Pandangan Hukum Syara’
10. Ulama Wajib Mengoreksi Penguasa, Bukannya Malah …..
11. Pemilu Wajib, Golput Haram, dan Dalil-Dalil yang Dipaksakan


Responses

  1. bisa tukeran link?

    Suka

  2. mbok ya mui ngeluarin fatwa yg agak bermutu gitu.. yg berbobot.. mosok ttg golput..

    katanya dulu mui dibikin utk jembatani ulama dan pemerintah (waktu zaman bung karno), mgkin gak ya hubungan politis masih terjalin :roll:

    Suka

  3. […] Baca Juga yang ini […]

    Suka

  4. Sebenarnya saya heran dengan politik di negeri ini, terlalu mementingkan dirinya sendiri, makanya kemudian mencuat golput haram, belum ada satu figur yang mampu mengelola negara ini, terus terang saya juga bingung bagaimana pemilu nanti, siapa calon yang cocok, berkaca dari fenomena beberapa tahun belakangan ini, kasus para wakil rakyat yang menyelewengkan kepercayaan masyarakat. Saatnya untuk berubah Indonesia

    Suka

  5. Mengapa masyarakat tidak percaya pada partai politik yang ada ? karena sesungguhnya kebanyakan orang-orang yang menjadi calon anggota legislatif bukanlah orang yang layak,profesional dan diragukan sifat amanahnya.

    betul !! dan jangan lupa yang diperlukan bukan hanya pemimpin yg benar tapi juga sistem yg benar.

    Suka

  6. gw setuju golput haram… ini demi masa depan bangsa dan kepentingan umat. kalau emang betul-betul gak ada yang dipilih, tetap nyoblos aja, tulis aja “GOLPUT” jangan golput tapi gak datang ke tempat pemungutan suara (TPS)

    sama aja dong. menurut saya abstain itu golput juga namanya

    Suka

  7. memang bener aspirasi sering tdk dihiraukan

    Suka

  8. Ass wr wb. fenomena golput emang jadi sesuatu yang kontroversial. ketika ada quyadah yang baik maka kita wajib memilih. tapi sebaiknya fatwa tidak harus di keluarkan. seharusnya para qiyadah kita berpikir mengapa bisa golput, penyebabnya adalah ketidak percayaan masyarakat, ini adalah tanggung jwb mereka bukan hanya sekedar obral janji kepada masyarakat. masyarakat sekarang sudah mengerti dan mulai cerdas dalam berpolitik.

    Suka

  9. menurut saya, kondisi sebuah pemerintahan adalah cerminan dari kondisi rakyatnya. sebuah pemerintahan yang sakit adalah bukti nyata bahwa rakyatnya juga sakit. semakin tinggi angka golput adalah implikasi kondisi kejiwaan rakyat yang pragmatis atau cenderung sakit juga, sehingga tidak peduli dengan kondisi sekarang dan kondisi nanti..

    fatwa golput haram justru sebenarnya bagus dan harus didukung jika semangat yang melandasinya adalah semangat perubahan ke arah yang lebih baik. dan saya pikir itulah semangat yang melandasi mui mengeluarkan fatwa tsb..

    justru yang aneh itu adalah, sebuah kelompok yang katanya pembela syariah justru memprovokasi masyarakar agar golput. entahlah bagaimana perasaan mereka ya jika gara-gara “provokasinya” tsb sebagian besar pemimpin yang kembali terpilih tsb adalah orang-orang sakit dan menyakitkan..kadang saya jadi berpikir, apakah mereka tidak menyadari bahwa sekarang ini mereka hidup di dunia nyata….

    You say….”semakin tinggi angka golput adalah implikasi kondisi kejiwaan rakyat yang pragmatis atau cenderung sakit juga, sehingga tidak peduli dengan kondisi sekarang dan kondisi nanti…”

    Tidak selamanya begitu kok. nampaknya anda kurang melek dunia politik demokrasi yg bobrok ini. Ada beberapa alasan kenapa masyarakat golput, bisa karena sekedar masalah teknis (tdk terdaftar), masalah ekonomi, apatis, hingga alasan ideologis. jadi jangan dipukul rata. Orang yg punya alasan ideologis berarti dia bener2 ngerti konsekuensi dr pilihannya, tdk terjebak pragmatisme semata.
    analisa saya dr beberapa survei yg pernah dilakukan oleh beberapa kalangan/lembaga baik yg sekuler nasionalis, islami maupun kafir sekalipun menunjukkan bahwa kesadaran umat Islam untuk menginginkan syariat semakin naik dr thn ke thn (prosentasenya). hanya saja ketika mereka menghadapi pilihan untuk memilih partai, ternyata mereka tdk menemukan partai yg bisa menyalurkan keinginannya (tak ada partai yg sungguh2 ingin memerapkan syariat). kalo sdh gitu wajar dong mereka tdk memilih partai yg ada tsb?

    dari sini sy menilai fenomena golput seharusnya mjd pelajaran bg partai yg ada, krn ternyata mrk blm bisa menjadi agregator bg aspirasi umat.

    saya sendiri tdk setuju kalo ada kelompok/org/ partai manapun yg memprovokasi masyarakat untuk golput.
    seharusnya yg dilakukan adalah menyadarkan masyarakat agar mendukung kelompok/partai yg betul2 memperjuangkan syariat islam tanpa malu2 dan ditutup2i, kalo partai yg dimaksud ternyata tdk ada, maka hendaknya mereka didorong untuk mengadakan kelompok yg seperti itu.

    You say ..”kadang saya jadi berpikir, apakah mereka tidak menyadari bahwa sekarang ini mereka hidup di dunia nyata….”

    kadang saya juga berpikir kenapa masyarakat begitu bodoh dan begitu mudahnya terjebak politik yg pragmatis. seolah2 pemilu demokrasi adalah SATU-SATUNYA jalan yg harus ditempuh, dan seakan2 tdk ada jalan lain.

    .

    Suka

  10. By: mrx on 8 Februari,

    Mengapa masyarakat tidak percaya pada partai politik yang ada ? karena sesungguhnya kebanyakan orang-orang yang menjadi calon anggota legislatif bukanlah orang yang layak,profesional dan diragukan sifat amanahnya.

    koment:
    inilah yang disebut sebab tidak bertemu dengan akibat (jangan partai politiknya dong yang disalahkan). sesungguhnya yang salah itu bukan partai politiknya tetapi karena orang-orang yang seharusnya ada disitu (yang amanah, jujur dan agamis) justru tidak perduli. dia hengkang dan tidak mau tahu…entah bagaimana nanti pertanggung jawaban mereka di hadapan Allah ya?

    Suka

  11. pondok24 said:

    Tidak selamanya begitu kok. nampaknya anda kurang melek dunia politik demokrasi yg bobrok ini. Ada beberapa alasan kenapa masyarakat golput, bisa karena sekedar masalah teknis (tdk terdaftar), masalah ekonomi, apatis, hingga alasan ideologis. jadi jangan dipukul rata. Orang yg punya alasan ideologis berarti dia bener2 ngerti konsekuensi dr pilihannya, tdk terjebak pragmatisme semata.

    komen:
    dilihat dari sudut pandang orang yang tidak ikut pemilu, alasan yang anda kemukan memang bisa diterima. tapi jika dilihat dari proses demokrasi itu sendiri dan akibat-akibat yang ditimbulkan oleh proses tsb bagi masyarkat itu sendiri maka alasan idiologis itu hanyalah sekedar alasan ketidakbertanggungjawaban atau sikap pragmatis yang lebih mendahulukan sikap berburuk sangka. padahal islam sudah jelas mengajarkan kita untuk tidak berburuk sangka tho?

    pondok24:
    analisa saya dr beberapa survei yg pernah dilakukan oleh beberapa kalangan/lembaga baik yg sekuler nasionalis, islami maupun kafir sekalipun menunjukkan bahwa kesadaran umat Islam untuk menginginkan syariat semakin naik dr thn ke thn (prosentasenya). hanya saja ketika mereka menghadapi pilihan untuk memilih partai, ternyata mereka tdk menemukan partai yg bisa menyalurkan keinginannya (tak ada partai yg sungguh2 ingin memerapkan syariat). kalo sdh gitu wajar dong mereka tdk memilih partai yg ada tsb?

    komen:
    sebenarnya yang lebih penting untuk anda kaji bukanlah hanya pada sekedar tren saja ataupun sekedar pembuktian bahwa bahwa golputnya mereka itu adalah karena alasan idiologis tetapi pembuktian bahwa bagaimana pendapat mereka cara yang paling tepat agar syariah tsb bisa diaplikasikan dan dinikmati oleh semua masyarakat. saya yakin pilihannya bukan pada metode hti..(berani mengadakan survey???)

    pondok24:
    saya sendiri tdk setuju kalo ada kelompok/org/ partai manapun yg memprovokasi masyarakat untuk golput.
    seharusnya yg dilakukan adalah menyadarkan masyarakat agar mendukung kelompok/partai yg betul2 memperjuangkan syariat islam tanpa malu2 dan ditutup2i, kalo partai yg dimaksud ternyata tdk ada, maka hendaknya mereka didorong untuk mengadakan kelompok yg seperti itu.

    komen:
    apakah tindakan hti yang cukup reaktif membantah fatwa haram golput oleh mui tsb bukan semacam provokasi?? bukankah fatwa tsb sebenarnya sudah mewakili seluruh umat islam di indonesia dan bukan hanya sekedar untuk keuntungan satu dua golongan? saya yakin, klo anda mempunyai sedikti saja sifat berbaik sangka maka pasti anda akan menemukan partai yang seperti itu. ada pks, pknu maupun pbb. partai bulan bintang (pbb), jelas-jelas mempunyai misi untuk menerapkan syariat islam di indonesia tapi apa yang sy lihat tidak sedikitpun dukungan hti buat partai ini..bagi saya alasan ini hanya bualan untuk membela diri bahwa sikap reaktif di atas adalah salah satu bentuk provokasi.

    jika hti yang mengaku sebagai partai politik dan sangat PD dengan misi dan cita-citanya kenapa tidak menjadi peserta saja. buktikan dong semua teori-teori anda di atas. bukankah hti tidak mengharamkan keikutansertaan dalam sistim pemerintahan demokrasi asal bukan untuk memilih kepemimpinan?

    pondok24:
    kadang saya juga berpikir kenapa masyarakat begitu bodoh dan begitu mudahnya terjebak politik yg pragmatis. seolah2 pemilu demokrasi adalah SATU-SATUNYA jalan yg harus ditempuh, dan seakan2 tdk ada jalan lain.

    komen:
    yah bagaimana mereka tidak berfikir begitu, jika seperti partai-partai tsb, maka hti sendiri pun mereka lihat hanyalah bergerak pada tataran janji dan slogan-slogan saja. tidak ada contoh dan apapun fakta yang bisa mereka tunjukkan. selain itu jalan SATU-SATUNYA yang mereka klaim tsb tidak mereka lihat..so..maka jalan terbaik saat ini untuk mengubah keadaan ya masuk dan membenahi sistim yang ada tsb..

    Suka

  12. msitompul2008:
    alasan idiologis itu hanyalah sekedar alasan ketidakbertanggungjawaban atau sikap pragmatis yang lebih mendahulukan sikap berburuk sangka. padahal islam sudah jelas mengajarkan kita untuk tidak berburuk sangka tho?

    pondok24:
    jika mereka (yg golput ideologis) tdk berbuat apa2 barangkali logika anda benar (artinya mrk tdk bertanggungjawab). Tapi jika mereka meyakini /mempunyai /malakukan cara lain (krn memahami pemilu bukanlah satu2nya jalan) untuk melakukan pendidikan politik bg umat, mk justru anda lah yg telah berburuk sangka.

    sitompul:
    sebenarnya yang lebih penting untuk anda kaji bukanlah hanya pada sekedar tren saja ataupun sekedar pembuktian bahwa bahwa golputnya mereka itu adalah karena alasan idiologis tetapi pembuktian bahwa bagaimana pendapat mereka cara yang paling tepat agar syariah tsb bisa diaplikasikan dan dinikmati oleh semua masyarakat. saya yakin pilihannya bukan pada metode hti..(berani mengadakan survey???)

    pondok24:
    tren fenomena prosentase golput yg semakin meningkat dlm pilkada adalah fakta yg tak dpt dipungkiri, dan fakta itu adalah bukti. terlepas dari berbagai alasan mereka yg memilih golput(selain masalah teknis), ada satu benang merah, mereka tdk percaya lagi dengan parpol peserta pemilu, demikian juga pemimpin hasil pilihan mereka ternyata tdk serta merta berdampak pada kesejahteraan.

    survei berikutnya yg ada (bukan hti yg mensurvei) membuktikan, ternyata harapan umat pada syariah islam. partai islam yg jeli seharusnya merespon aspirasi mereka ini kalo tdk ingin mereka memilih golput. contoh hsl survei insya Allah akan sy kirim via email. kesimpulan sementara dr survei ini : ketika keinginan/kesadaran mrk thd syariah makin kuat ternyata justru mrk tdk menemukan partai yg menawarkan hal itu, sehingga kemana mereka mau menyalurkan aspirasinya? ini PR buat parpol Islam.

    sitompul:
    apakah tindakan hti yang cukup reaktif membantah fatwa haram golput oleh mui tsb bukan semacam provokasi??

    pondok24:
    kalau anda membaca cermat sikap/pernyataan sikap hti thd keluarnya fatwa MUI terkait masalah golput, sepertinya nggak ada tuh provokasi itu.
    perlu anda ketahui juga bahwa reaksi semisal juga keluar dari NU, muhammadiyah dan yg lain. bukan hanya hti saja. sekali lagi menurut sy nggak ada tuh provokasi, kita hanya ingin mendudukkan permasalahan secara benar (syar’i).

    sitompul:
    jika hti yang mengaku sebagai partai politik dan sangat PD dengan misi dan cita-citanya kenapa tidak menjadi peserta saja.

    pondok24:
    hti berpandangan jalan perubahan hakiki yg dicontohkan Rasul SAW adalah melalui jalan ummat. ummat yg sadar syariat pasti akan menuntut diterapkannya syariat. jadi saat ini hti konsen pada upaya untuk menyadarkan umat, agar umat memilih dengan cerdas dan benar. jadi menuduh hti memprovokasi untuk golput adalah fitnah yg keji

    sitompul:
    maka hti sendiri pun mereka lihat hanyalah bergerak pada tataran janji dan slogan-slogan saja. tidak ada contoh dan apapun fakta yang bisa mereka tunjukkan. selain itu jalan SATU-SATUNYA yang mereka klaim tsb tidak mereka lihat.

    pondok24:
    biarlah umat yg cerdas yg akan menilai, pada saatnya nanti umat pasti akan melihat. sabar saja. merubah isi kepala memang tdk semudah memformat hardisk, karena manusia adalah makhluq sosial bukan benda mati.

    Suka

  13. pondok24:
    jika mereka (yg golput ideologis) tdk berbuat apa2 barangkali logika anda benar (artinya mrk tdk bertanggungjawab). Tapi jika mereka meyakini /mempunyai /malakukan cara lain (krn memahami pemilu bukanlah satu2nya jalan) untuk melakukan pendidikan politik bg umat, mk justru anda lah yg telah berburuk sangka.

    komen:
    nah disinilah mas salahnya mas pondoks, yang menilai kita sudah berbuat apa-apa itu bukanlah diri kita atau kelompok kita sendiri tapi orang/pihak lain. Dari sudut pandang sendiri, siapapun selalu merasa sudah berbuat apa-apa padahal sebenarnya menurut orang lain belum berbuat apa-apa sama sekali. Selain itu kemerasaan kita sudah berbuat apa-apa itu apakah sudah sesuai dengan harapan mereka/orang lain yang menjadi objek apa-apa tsb sehingga pernyataan kita sudah berbuat apa-apa tsb adalah benar.

    #Selain itu kemerasaan kita sudah berbuat apa-apa itu apakah sudah sesuai dengan harapan mereka/orang lain#
    Refa:

    nah justru disinilah cara berpikir anda yg dangkal, kalo yg kita lakukan sekedar mengikuti apa keinginan masyarakat yg rusak, justru ini bahaya. Alih2 ingin mengubah masyarakat, malah kita berubah mengikuti maunya masyarakat. Jujur saja lah, saat ini pemikiran masyarakat sedang rusak. kalo setiap maunya masyarakat kita maui, itu namanya terjebak pragmatisme. Justru yg kita lakukan adalah mengubah masyarakat baik pemikirannya, tingkahlakunya, dan aturan2 yg dijadikan standarnya. berat memang krn yg kita ubah isi kepalanya. tapi kan perlu waktu. nggak bisa cepat. Tapi sy yakin lama2 akan berubah juga. lagi2 hasil survei membuktikan masyarakat sdh mulai sadar untuk ingin diatur dgn syariat, ini gambaran bhw proses mengubah dan menyadarkan masyarakat mulai membuahkan hasil

    pondok24:
    tren fenomena prosentase golput yg semakin meningkat dlm pilkada adalah fakta yg tak dpt dipungkiri, dan fakta itu adalah bukti. terlepas dari berbagai alasan mereka yg memilih golput(selain masalah teknis), ada satu benang merah, mereka tdk percaya lagi dengan parpol peserta pemilu, demikian juga pemimpin hasil pilihan mereka ternyata tdk serta merta berdampak pada kesejahteraan.

    komen:
    ah saya pikir mas pondok ini terlalu pragmatis deh (persis kayak saya dulu he..he…). anda punya bukti bahwa bahwa golput di pilkada sama trendnya dengan golput di pemilu partai?

    saya pikir mereka bukan hanya tidak percaya pada partai peserta pemilu tetapi juga kepada partai non peserta pemilu. betul??

    Refa :

    selama aktivitas partai (baik yg ikut pemilu dan tidak ikut) tdk merespon keinginnan masyarakat yg sdh mulai sadar, tentu saja hasilnya sama saja, yaitu mrk tdk akan percaya pd partai

    pondok24:
    survei berikutnya yg ada (bukan hti yg mensurvei) membuktikan, ternyata harapan umat pada syariah islam. partai islam yg jeli seharusnya merespon aspirasi mereka ini kalo tdk ingin mereka memilih golput. contoh hsl survei insya Allah akan sy kirim via email. kesimpulan sementara dr survei ini : ketika keinginan/kesadaran mrk thd syariah makin kuat ternyata justru mrk tdk menemukan partai yg menawarkan hal itu, sehingga kemana mereka mau menyalurkan aspirasinya? ini PR buat parpol Islam.

    komen:
    benarkah? siapa dan kapan surveynya? disurvey juga metode apa yang paling tepat dilakukan untuk menggapai harapan mereka tsb? klo mo ngirim ke:msitompul@yahoo.com (ditunggu lho).

    pondok24:
    kalau anda membaca cermat sikap/pernyataan sikap hti thd keluarnya fatwa MUI terkait masalah golput, sepertinya nggak ada tuh provokasi itu.
    perlu anda ketahui juga bahwa reaksi semisal juga keluar dari NU, muhammadiyah dan yg lain. bukan hanya hti saja. sekali lagi menurut sy nggak ada tuh provokasi, kita hanya ingin mendudukkan permasalahan secara benar (syar’i).

    komen:
    oya..coba lihat mana penolakan nu, muhammadiyah terhadap fatwa mui tsb?
    Refa:

    coba di klik linknya

    provokasi atau tidak sebenarnya tergantung siapa yang melihatnya mas. entahlah rasa yang timbul di hati saya justru semacam provokasi deh he..he…entahlah klo menurut orang lain..

    pondok24:
    hti berpandangan jalan perubahan hakiki yg dicontohkan Rasul SAW adalah melalui jalan ummat. ummat yg sadar syariat pasti akan menuntut diterapkannya syariat. jadi saat ini hti konsen pada upaya untuk menyadarkan umat, agar umat memilih dengan cerdas dan benar. jadi menuduh hti memprovokasi untuk golput adalah fitnah yg keji

    komen:
    O gitu…jadi putusan mui itu tidak syar’i ya mas..klo begitu menurut mas pondok, apa sih yang melatarbelakangi mereka mengeluarkan fatwa itu?
    Refa:

    yg melatar belakangi? tentu ini bukan tempatnya untuk membahas ini, karena sy tdk mau termakan provokasi anda agar sy mengkritiki MUI. Kritik saya adalah pada isi fatwa dipandang dr kacamata hukum syara’ bukan mengkritik MUI mas. Disinilah letak ketidak jelian anda

    pondok24:
    biarlah umat yg cerdas yg akan menilai, pada saatnya nanti umat pasti akan melihat. sabar saja. merubah isi kepala memang tdk semudah memformat hardisk, karena manusia adalah makhluq sosial bukan benda mati.

    komen:
    benar mas.
    klo menurut saya yang lebih penting sekarang in adalah memberi pelajaran pada umat agar cerdas memilih pemimpin..

    Refa:

    nah pada point terakhir ini saya setuju banget. OK mari kita fastabikul khairat saja mas, Ibaratnya kita ini pelayan yg menyajikan makanan buat ummat, mari kita berlomba menyajikan makanan yg terbaik buat umat, yang enak, yg membuat ummat ketagihan, biar umat menilai siapa yg melayani mereka dengan baik. Nggak perlu lah kita menjelekkan pelayan yg lain. Setuju kan?

    Suka

  14. pondok24:
    nah justru disinilah cara berpikir anda yg dangkal, kalo yg kita lakukan sekedar mengikuti apa keinginan masyarakat yg rusak, justru ini bahaya. Alih2 ingin mengubah masyarakat, malah kita berubah mengikuti maunya masyarakat. Jujur saja lah, saat ini pemikiran masyarakat sedang rusak. kalo setiap maunya masyarakat kita maui, itu namanya terjebak pragmatisme. Justru yg kita lakukan adalah mengubah masyarakat baik pemikirannya, tingkahlakunya, dan aturan2 yg dijadikan standarnya. berat memang krn yg kita ubah isi kepalanya. tapi kan perlu waktu. nggak bisa cepat. Tapi sy yakin lama2 akan berubah juga. lagi2 hasil survei membuktikan masyarakat sdh mulai sadar untuk ingin diatur dgn syariat, ini gambaran bhw proses mengubah dan menyadarkan masyarakat mulai membuahkan hasil

    komen:
    mas!! yang bilang mo mengikuti keinginan masyarakat yang rusak itu siapa? bukankah konteks yang kita bahas adalah hal/keinginan masyarakat yang baik. maaf, sepertinya kader hti dilatih untuk senantiasa berfikir negatif ya. justru pemikiran anda dangkal sekali. reaktif namun negatif. cobalah berfikir dalam bingkai yang lebih positif mas.

    keinginan masyarakat yang dibahas disini adalah antara lain misalnya, aksi langsung dalam membantu korban bencana alam, aksi langsung bagaimana agar siaran-siaran tv misalnya lebih islami, aksi langsung bagaimana agar keselamatan di tempat umum itu lebih terjamin, aksi langsung terhadap kurikulum sekolah-sekolah agar lebih islami dsb dll. jadi masyarakat itu membutuhkan contoh teladan yang nyata sebagai bukti kasih sayang hti kepada mereka sebagai sesama muslim. karena hti adalah organisasi publik mereka ingin melihah aktifitas publiknya selain propaganda khilafah yang sama sekali masih jauh dari angan-angan mereka…begitho…

    pondok24:
    selama aktivitas partai (baik yg ikut pemilu dan tidak ikut) tdk merespon keinginnan masyarakat yg sdh mulai sadar, tentu saja hasilnya sama saja, yaitu mrk tdk akan percaya pd partai

    komen:
    betul.

    pondok24:
    yg melatar belakangi? tentu ini bukan tempatnya untuk membahas ini, karena sy tdk mau termakan provokasi anda agar sy mengkritiki MUI. Kritik saya adalah pada isi fatwa dipandang dr kacamata hukum syara’ bukan mengkritik MUI mas. Disinilah letak ketidak jelian anda

    komen:
    O gitu, karena fatwa ini dikeluarkan oleh mui maka secara otomatis yang dikritik adalah kapasitas orang-orang yang mengeluarkan fatwa tsb. diakui atau tidak itulah pointnya. selain itu saya pikir fatwa itupun diputuskan dari kaca mata syara. betul? dsinilah keluguan hti yang terkadang bertindak seperti anak-anak yang baru punya kemampuan sedikit (kata mbah sya ora bijaksana).

    pondok:
    nah pada point terakhir ini saya setuju banget. OK mari kita fastabikul khairat saja mas, Ibaratnya kita ini pelayan yg menyajikan makanan buat ummat, mari kita berlomba menyajikan makanan yg terbaik buat umat, yang enak, yg membuat ummat ketagihan, biar umat menilai siapa yg melayani mereka dengan baik. Nggak perlu lah kita menjelekkan pelayan yg lain. Setuju kan?

    komen:
    iya betul. kira-kira kounter terhadap fatwa ulama tsb tanpa memberi alternatif positif yang lebih baik termasuk usaha melayani masyarakat ga sih? bingung aku!!

    Suka

    • yg sy maksud memang bukan keinginan masyarakat yg sdh jelas2 rusak spt masyarakat minta dibuatkan lokalisasi perjudian trus diijinkan, bukan spt itu. kalo yg gitu2 insyaAllah tdk kok. tapi yg sy maksud adalah pemikiran yg seakan2 baik tapi hakikatnya buruk. padahal baik/buruk itu kan standarnya hukum syara bukan akal manusia. misalnya saja masyarakat yg cenderung liberal menyarankan agar kita nggak usah dulu deh mengusung syariat Islam, masyarakat blm siap, nanti malah pada takut dan menjauh. lalu kita ikuti apa maunya masyarakat. kalo spt itu kan bukannya masyarakat jd ngerti syariat, tp malah semakin jauh. Sampai kpn masyarakat akan siap kalau tdk pernah memulai menjelaskan dr sekarang. lagi pula siap nggak siap, suka nggak suka syariat adalah kewajiban, bukan sekedar pilihan yg ketika kurang diminati lantas ditinggalkan dulu.

      Suka


Bagaimana tanggapan anda ?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: