Oleh: Refa | 24 Maret 2009

Logika Ngaco !


“Kalau kita nggak ikut Pemilu, parlemen akan dikuasai orang kafir, itu kan lebih parah.” Kurang lebih seperti itu argumen temen-temen yang ‘ngotot’ ngajak ikut Pemilu. Berbagai kaidah hukum syara pun dimuntahkan untuk mendukung alasan ini. Yang sering dipakai adalah akhafuddhororoin (ambil dhoror yg lebih ringan) atau  ahwanusysyarrain (mengambil keburukan yang lebih ringan). “Memang pemilu sekarang belum Islami, tapi bahayanya lebih kecil dibanding kita tidak ikut pemilu.” kata temen tersebut.

Sekarang logika tersebut akan coba saya balik. Berarti kalau orang Islam berkuasa akan lebih baik ? Benarkah begitu ?

Bukankah faktanya sepanjang sejarah demokrasi di Indonesia yang mayoritas menjadi anggota legislatif, eksekutif  sampai yudikatif adalah orang Islam. Ketua MPR dari Partai yang paling Islami, Ketua DPR juga Islam, Presiden Muslim, Wapres juga muslim. bahkan Kapolri pernah dijabat seorang Da’i. Para pejabat tinggi TNI juga muslim. tapi apa berarti kondisi kita lebih baik?

Kalau yang kita jadikan parameter adalah angka kemiskinan, pengangguran yang sangat tinggi, perampokan kekayaan alam oleh asing yang kian menggila atas nama investasi asing dan pasar bebas, kriminal merajalela, pornografi pornoaksi makin bebas, Ahmadiyah semakin bebas, kemusyrikan semakin parah, maka tentu kita akan mengatakan bahwa kondisi kita tidak semakin baik.

Kenapa ini terjadi? karena kebaikan tidak bisa muncul hanya dari kebaikan individu, tapi membutuhkan sistem yang baik pula. Semua persoalan di atas muncul karena kita masih menerapkan sistem kufur yakni sistem kapitalisme yang asasnya sekuler. Siapapun pemimpinnya kalau sistemnya masih sistem kapitalis sekuler maka tidak akan terjadi perubahan yang hakiki.

Berikutnya. Apakah kita ikut pemilu atau tidak bukanlah didasarkan pada kemashlahatan berdasar hawa nafsu. Tapi haruslah berdasar hukum syara’. Apa yang diharamkan allah harus kita tinggalkan, apa yang diperintahkan Allah harus kita laksanakan. Begitupun penilaian apakah sesuatu itu dhoror (berbahaya) atau syar (buruk) juga harus berdasar hukum syara’. Apapun yang dilarang hukum syara’ pasti merupakan perkara keburukan yang pastilah akan mendatangkan dhoror bagi manusia.

Jadi kalau Allah SWT melarang kita memilih pemimpin maupun caleg yang tidak menjalankan hukum syara’, itulah yang terbaik untuk kita.

Kaedah akhafuddhororoin (ambil dhoror yg lebih ringan) atau  ahwanusysyarrain (mengambil keburukan yang lebih ringan), boleh dipakai kalau kita memang dalam kondisi ‘deadlock’, alias tidak ada pilihan lain. Tapi apakah kita sekarang sedang dalam kondisi ‘deadlock’ , tidak ada pilihan lain yang membuat kita seakan-akan harus memilih satu-satunya jalan yakni jalan demokrasi ?

Bukankah ada jalan lain, yakni jalan Islam, yaitu menegakkan sistem Islam dengan metode yang Islami pula ?

Yang sering tidak disadari oleh temen-temen kita adalah keterlibatan umat Islam dalam sistem kufur justru akan mengokohkan dan melanggengkan sistem kufur tersebut. Sebetulnya perubahan akan lebi cepat terwujud kalau umat bersama-sama menolak terlibat dalam sistem kufur dan secara bersama-sama menegakkan sistem Islam.

Bayangkan. Jika lebih 80% pemilih yang mayoritas Islam tidak berpartisipasi dengan alasan ideologis (hukum syara’), kemudian sama-sama menegakkan sistem Islam pastilah terjadi perubahan. Sekaligus ini menghancurkan legitimasi sistem kufur yang ada. Dalam kondisi seperti ini perubahan menuju sistem Islam akan lebih cepat terjadi.

Dalam sistem demokrasi kufur juga sering muncul jebakan-jebakan. Terkadang sikap kompromi terhadap ideologi kufur dan koalisi dengan partai kufur dilakukan. Partai yang awalnya sangat memegang teguh prinsip Islam, sedikit demi sedikit luntur setelah terjebak dalam ‘lumpur’ demokrasi ini.

Pokoknya kumpulkan suara sebanyak-banyaknya, tak peduli caranya. Jelas ini sangat berbahaya. Lihat saja di berbagai Pilkada, partai yang memiliki akar gerakan Islam berkoalisi bukan atas kesamaan ideologi tapi kesamaan meraih suara. Prinsip utama aqidah Islam yang menuntut terpisahnya secara tegas antara yang hak dan batil pun dilanggar. Busyetttttt

Seruan untuk menegakkan syariah pun nyaris tak terdengar dari parlemen. Alasannya sederhana sekali. “Syariat islam tidak laku dijual untuk meraih suara”. Bukankah ketika rakyat belum menerima Syariah, ini menjadi tugas partai untuk menyadarkan masyarakat ?

Pemilu demi pemilu sudah digeber, tentu dengan biaya yang sangat mahal. tapi apa hasilnya untuk rakyat? Adakah perubahan yang nyata? jawabanya TIDAK. karena pemilu memang tidak merubah sistem secara menyeluruh. Perubahan yang nyata akan terjadi kalau kita menolak sistem kufur yang ada yakni sistem kapitalis. Kemudian kita menerapkan sistem Islam yang berdasarkan syariat Islam. Inilah SATU-SATUNYA perubahan yang bisa diharapkan.

So, masihkah berharap pada sistem demokrasi ?

Iklan

Responses

  1. ah..semua manusia sama bung, anda bisa bilang begitui karena anda ga ada di posisi seperti mereka (legislatif)

    (maaf) anda mungkin orang PKS…yang terkenal jujur dan tidak korup…wajarlah, karena memang organisasi parpol ini dah terorganisisr dengan baik, dan gaji gede (entah dana dari maan)..so ngapain harus korup….
    ya ga…

    Nama dan email anda banyak banget, ganti2 identitas tapi tetap saja ketahuan soalnya IP adressnya tetap sama. Hayo ngaku.

    Saya bukan orang PKS mas, dulu sih simpatisan tapi dah Walk Out darinya

    Suka


Bagaimana tanggapan anda ?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: