Oleh: Refa | 13 Oktober 2009

Interview (Imajiner) with Miyabi-versi gue


Akhir-akhir ini Miyabi alias Maria Ozawa udah bikin kontroversi seputar rencana kedatangannya ke Indonesia. Siapa Maria Ozawa dan apa keperluannya datang ke Indonesia? Maria Ozawa ini meski ada nama “zawa” bukanlah orang Jawa (halah, apa hubungannya?), tapi wong Jepang, Bro. Di negeri asalnya dan oleh para penggemarnya di seluruh dunia doi terkenal sebagai bintang film porno. Nah, rencana kedatangannya nanti pada tanggal 15 Oktober 2009, menurut ‘gosip’ di media massa yang udah berkembang sih Miyabi akan memenuhi undangan dari Maxima Picture untuk syuting film terbaru yang skenarionya ditulis Raditya Dika dengan judul “Menculik Miyabi”. Film ini menceritakan tiga orang mahasiswa yang terobsesi dengan artis film porno asal Jepang tersebut. Ketiga mahasiswa itu ingin menculik Miyabi ketika mereka tahu artis tersebut berada di Jakarta.

Cap bintang film panas memang sudah melekat di sosok Maria Ozawa atau yang lebih dikenal dengan sebutan Miyabi. Maklum saja, di Jepang ia dianggap sebagai salah satu urban legend film porno. Tapi itu dulu, lain dengan sekarang. Ody Mulya, selaku produser film MENCULIK MIYABI menegaskan jika Miyabi benar-benar sudah tobat.

“Itu kita tahunya seperti itu dari pihak manajemen Miyabi. Miyabi ingin jadi bintang film biasa, dia sudah tidak mau lagi main film porno,” kata Ody yang ditemui di kantor Maxima, Jl. Jayakarta, Sawah Besar, Jakarta Pusat, Jumat (9/10).

Dan atas dasar itulah sebenarnya awal keinginan Ody mengajak bintang film panas asal Jepang itu ikutan main di filmnya. “Karena kita tahu itu, kita ajak dia main film di Indonesia, memainkan film komedi. Seharusnya orang pengen tobat masa’ nggak boleh?” ujarnya.

Apa Ody yakin Miyabi benar-benar tak mau lagi beradegan panas? “Ya memang seperti itu dari pihak manajemennya,” tegas Ody lagi.

Lantas benarkah Miyabi bener 2 sudah tobat ? Untuk itulah dalam satu kesempatan saya berusaha untuk Menculik Miyabi duluan sebelum keduluan 3 mahasiswa ngeres tersebut, ya  sekedar untuk mewawancarainya, berikut petikannya:

Saya (S): Selamat malam Mbak Miyabi..eh…Mbak Maria ..eh.. Mbak  Zahwa ehh …Mbak Ozawa.
Miyabi(M): Malam. Manggilnya Miyabi aja deh.

S: Apa betul Miyabi mau main film Indonesia?
M: Ah kata siapa ?

S: Loh gosipnya sudah menyebar dimana 2 lho mbak
M: Siapa suruh percaya sama gosip. kan harusnya tanya langsung ke saya. Negeri kamu ini emang doyan banget ama gosip ya? Sampe sampe gosip dari Den Sus juga dipercaya.

S: Oke deh. Tapi kan, di Jepang sendiri mbak dikenal sebagai bintang film porno.
M: Eit…Siapa bilang film porno. Film bokep! (sambil tersipu malu). Eh kamu kok tahu ? berarti kamu suka cari 2 juga film saya ?

S: Ya nggak dong Mbak, kan cukup mendapatkan beritanya aja.

M: Ya ya bagus itu. Mbak sendiri juga sdh tobat kok. Kamu lihat kan penampilan saya sekarang seperti ini? Apa ini belum cukup membuktikan niat baik saya?

miyabi no sensor

S: Ya saya percaya kok mbak. Mudah2an mbak bisa istiqomah.
M: Insya Allah Amien

S: Oya mbak, bisa ceritakan bagaimana hidayah itu tiba 2 datang?
M: Baiklah, awalnya saya baca di internet ada tulisan yg begitu  menyadarkan saya yaitu tentang tipe-tipe orang yang ada di sekitar kita. Pertama, orang yang tahu dan dia tahu kalo dirinya tahu. Kelompok ini insya Allah bisa diajak berpikir. Malah tinggal bergandengan bersama untuk menciptakan kebaikan. Kedua, orang yang tahu kalo dirinya tidak tahu. Nah, ini relatif mudah untuk diajak baik. Sebab, dia udah tahu kalo dirinya nggak tahu. Maka caranya harus diajak belajar. Ketiga, orang yang tidak tahu kalo dirinya tahu. Orang-orang model gini kudu disadarkan tentang kondisi dirinya. Diingatkan tentang potensi yang dimilikinya. Keempat, orang yang tidak tahu kalo dirinya tidak tahu. Walah, ini namanya lumayan ngeyel dan parah. Apalagi kalo sampe doi sok tahu. Maka perlakuannya, orang-orang model gini kudu diajak supaya mau sadar dan belajar agar mampu mengolah pikir dan rasanya. Dari yang tadinya nggak tahu jadi tahu, gitu lho. Nah, setelah ngukur diri, saya masuk ke golongan yang mana nih? Sejak itu saya mulai gelisah, lalu saya mulai tekun baca 2 tulisan yg selalu mengajak untuk berpikir. Salah satunya yang paling saya suka dan sering baca adalah sebuah blog di pondok 24
M: Sejak saat itulah saya berubah.

S: Termasuk pakaian mbak sekarang ?.
M: Lha iya lah. coba pikirkan. secara naluri aja kita malu nggak sih kalo keluar rumah nggak berpakaian? Kita belum bilang ini dilarang menurut agama dan dianggap biasa oleh sekularisme. Tapi kita pake alam pikiran kita sendiri sebagai manusia. Idealnya, manusia normal, gimana pun kurang ilmunya, kemungkinan besar ia akan malu jika keluar rumah telanjang. Apalagi jika kemudian ia melihat dan membandingkan dengan orang lain yang justru ada juga yang berpakaian rapi menutup aurat. Minimal banget, dia tuh heran dan berpikir: “Kok ada ya yang pake baju lengkap menutup aurat? Kenapa saya malah berpakaian seperti ini?” Wah, kalo udah bisa berpikir kayak gini T.O.P dah. Dua jempol buat doi.

S: Terus mbak …

M: Nah, memang sih, nggak bisa nyalahin seratus persen akibat sekularisme kita jadi rusak. Sebab, kenyataannya, sekularisme terus diterapkan, tapi banyak juga yang melawannya. Kenapa bisa begitu? Karena mereka yang melawan sekularisme mau belajar. Sebab, dengan belajar paling nggak kita dapetin tiga aspek. Pertama, aspek koginitif alias ilmu pengetahuan. Tadinya kita nggak tahu, tapi dengan belajar akhirnya jadi tahu. Kedua, aspek afektif alias perasaan (emosional). Sebelum belajar kita adalah orang yang penakut, tapi begitu belajar tentang keberanian akhirnya jadi pemberani. Tadinya tidak mau mengenakan pakaian yang menutup aurat, akhirnya jadi mau karena pas belajar dikasih tahu manfaat dan juga hukum-hukumnya terkait dengan ajaran agama kita. Ketiga, keuntungan lain dari belajar adalah berkembangnya aspek psikomotorik alias keterampilan. Tadinya nggak bisa, jadi bisa. Pilihan ada di tangan kita: Mau belajar atau mau tetap hidup semau gue dengan aturan yang suka-suka kita tanpa dibimbing kebenaran mutlak, yakni dengan aturan dari Allah Swt. dan RasulNya?

S: Ada lagi  mbak ?

M: Normalnya sih seseorang sebelum sampe ke tahap berpikir–yang dengannya bisa menentukan sikap dan tahu mana yang salah dan mana yang benar–sejatinya ia pasti melewati proses KLT alias Knowing (tahu), Learning (belajar), and Thinking (berpikir). Maka, buat yang nggak ngeh tentang pornografi, pasti sebetulnya ia tahu kalo ada perbedaan cara berpakaian dari orang-orang yang ada di sekitarnya. Ada yang membuka aurat dan malah ada yang tertutup rapat tubuhnya ketika keluar rumah. Idealnya, proses dia “tahu” atau knowing itu ditindaklanjuti dengan learning alias belajar. Bertanya kepada yang tahu mengapa ada yang berpakaian memperlihatkan keindahan tubuhnya dan malah ada yang menutup rapat potensi keindahan tubuhnya. Jangan cuek aja. Udah ngerasa beda, ya jangan berani beda tanpa ilmu. Waduh, nggak banget deh.

Selanjutnya nih, bagi orang yang udah belajar rutin dan intensif, seiring dengan ilmu yang bertambah banyak, juga olah pikir dan rasanya yang kian bagus, maka dia insya Allah sampe ke tahap berpikir alias thinking. Di tahap ini, dia malah punya kelebihan. Selain mengamalkan ilmu dalam kehidupannya, juga ia mau ngajak orang lain agar sadar bahkan rela menanggung penderitaan agar orang lain sadar dan mengikuti ilmu yang diajarkannya.

S: Bisa diberikan contoh mbak? Saya kok jadi agak mumet

M:Ilustrasi sederhana gini: ketika kamu tahu kalo ada lubang di sebuah jalan. Maka ketika tahu kamu bakalan hati-hati melewati jalan tersebut. Karena sering lewat situ, akhirnya kamu belajar bagaimana caranya menghindari jalan itu meski pada malam hari. Kamu amati dan ingat tempat mana saja yang lubangnya berbahaya. Terakhir, kalo kamu sampe ke tahap berpikir adalah ketika kamu mulai memasang papan peringatan demi keselamatan orang lain, misalnya: “Hati-hati ada lubang!” Bahkan lebih keren lagi kamu lapor ke aparat setempat untuk memperbaiki jalan berlubang tersebut karena bisa membahayakan orang lain. Keren banget kan? So, perubahan itu adalah proses. Kamu pasti bisa melewatinya. Yakin aja.

S: Wah luar biasa pemikiran mbak Miyabi sekarang. Ada pesan 2 untuk para penggemar Mbak Miyabi agar mereka juga mau bertobat ?

M: Ya. pesan saya singkat :”BERTOBATLAH, KIAMAT SUDAH DEKAT”. Terus setelah itu kapan dan di mana pun kita menemukan media yang berbau pornografi, jangan ragu-ragu untuk menghancurkannya (atau minimal meninggalkannya, cuekkin aja dah).. Jaga diri, jaga keluarga, dan teman-teman kita. Saling mengawasi dan mengingatkan bukan berarti ikut campur urusan orang lho, tapi kita menjaga diri dan lingkungan untuk menghindari kerusakan dan maksiat. Ok, ?

BTW, kalo nanti Islam udah diterapkan sebagai ideologi negara, mereka yang ada di pedalaman seperti di Papua dan suku dayak lainnya, nggak bakalan dijadikan sebagai obyek wisata lho. Nggak kayak sekarang, mereka dianggap sebagai warisan budaya bangsa. Itu dzalim, karena seharusnya pemerintah memberikan pembinaan dan mendakwahi mereka agar mau hidup lebih mulia. Tapi nyatanya, malah dipelihara agar tetap jahiliyah seperti itu. Kasihan banget kan,  masa selamanya mereka disuruh pake koteka, sejujurnya mereka juga pengin maju, berpakaian tidak hanya selayaknya tapi juga menutup aurat.

Mari, kita mengubah kondisi ini dengan Islam. Lebih cepat lebih baik untuk terapkan syariat Islam! Harus Pro dakwah Islam dan Lanjutkan perjuangan tegaknya Khilafah Islamiyah ini. Tetap semangat!

Dan, tiba-tiba alarm di HP ku berbunyi nyaring. jam 04.45 dini hari.

Oalaaah, perjumpaan sama mbak miyabi itu ternyata cuma dalam mimpi

Wis, daripada makin ngawur, saya akhiri sampai di sini saja tulisan ini.


Responses

  1. hehehe, untung mimpinya bagus mas, jadi gak perlu mandi junub…

    Suka

  2. haaa……haa……
    mAkaNya SbLm tDr jNg mIkirin MIYABI.
    OkEy?

    Suka

  3. hay bak

    Suka

  4. […] Ma'ruf on TAMU HARAP LAPORRefa on Nonton TV Nasional di Int…ayank on Interview (Imajiner) with Miya…Novina on TAMU HARAP LAPORjakfar on Beberapa Catatan Kritis Tentan…Kasim daeng on Ustadz […]

    Suka

  5. […] Juga : Wawancara imajiner dengan Miyabi Bagikan :Like this:SukaBe the first to like this […]

    Suka


Kategori

%d blogger menyukai ini: