Oleh: Refa | 28 Desember 2009

Ghibah Haram Ghibah Boleh


The Bad News is The Good News, itulah barangkali prinsip yang dipakai para pencari keuntungan melalui tayangan yang bernama Ghibahtainment. Dan Lihat saja tayangan-tayangan seperti ini hampir tiap hari menyerbu di layar TV kita, mulai pagi, siang, sore hingga malam. Seolah tak mau ketinggalan hampir semua stasiun TV memiliki acara seperti ini.

The Bad News is The Good News. Berita duka, perceraian, pertengkaran yang dialami seseorang apalagi yang dialami selebritis akan bernilai sebagai sebuah berita yang bagus untuk menyedot pemirsa sekaligus menarik iklan yang ujung-ujungnya meningkatkan Rating.  Coba bayangkan kalau tayangan Infotainment itu benar-benar hanya menampilkan informasi yang biasa-biasa saja. Profil keluarga sakinah misalnya, Rumah tangga ideologis pengemban dakwah, Anak -anak cerdas pemenang olympiade sciense misalnya. Sudah dipastikan bakalan sepi penonton dan sepi iklan.

Itulah gambaran kehidupan sekuler, yang tak pernah mempertimbangkan hukum syara’ sebagai rambu-rambu dalam kehidupan. Segalanya diukur hanya dengan asas manfaat. Sehingga berlaku kaidah “segala yang dapat menghasilkan manfaat (materi/uang/kepuasan), maka itulah yang diambil”. Walhasil tak ada istilah halal-haram dalam pandangan penganut sekulerisme.

Jangan heran jika kemudian ketika PBNU mengeluarkan fatwa haramnya tayangan infotainment, reaksi penolakan bermunculan. Inilah dampak dari sekulerisme.

Terlepas dari pro kontra seputar fatwa tersebut, saya ingin meluruskan kembali tentang apa itu ghibah, benarkah ghibah haram hukumnya, dan apakah acara infotainment yang marak di Tv saat ini terkategori ghibah.

Sebelumnya marilah kita simak firman Alloh SWT dalam QS Al Hujurot ayat 12, yang artinya sebagai berikut:  “Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan prasangka , karena sebagian dari prasangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang . (QS Al-Hujurat:12)”

Demikianlah Alloh SWT mengumpamakan antara menggunjing (ghibah) dengan orang yang memakan daging bangkai saudaranya sendiri.

Lalu Apakah ghibah itu ?

Sesuai apa yang diterangkan Nabi SAW: pada Hadits Riwayat Muslim, Abu Daud : Nabi SAW bersabda : “Tahukah kamu apa ghibah itu ? Jawab sahabat : Allahu warasuluhu a’lam (Allah dan Rasulullah yang lebih tahu). Kemudian Nabi SAW bersabda: Menceritakan hal saudaramu yang ia tidak suka diceritakan pada orang lain. Lalu Sahabat bertanya: Bagaimana jika memang benar sedemikian keadaan saudaraku itu ? Jawab Nabi SAW : “Jika benar yang kau ceritakan itu, maka itulah ghibah, tetapi jika tidak benar ceritamu itu, maka itu disebut buhtan (tuduhan palsu, fitnah) dan itu lebih besar dosanya”.

Dalam kitab al adzkar , Imam An-Nawawy memberikan definisi : ‘Ghibah, adalah menyebutkan hal-hal yang tidak disukai orang lain, baik berkaitan kondisi badan, agama, dunia, jiwa, perawakan, akhlak, harta, istri, pembantu, gaya ekspresi rasa senang, rasa duka dan sebainya, baik dengan kata-kata yang gamblang, isyarat maupun kode.

Adapun kalau sekedar membathin, belum bisa disebut ghibah, meskipun hal ini juga termasuk prasangka. Dalam QS Al Hujurat ayat 12 tadi disebutkan bahwa ber-prasangka pun kita sebaiknya berhati-hati, karena sebagian dari prasangka adalah dosa. Dalam hal ini adalah prasangka yang buruk (su’u dzon). Sebaliknya kita dianjurkan untuk selalu berkhusnudzon atau prasangka yang baik.

Ghibah dikatakan mempunyai dosa ganda. Karena selain kita harus memohon ampun kepada Alloh, SWT  kita juga harus meminta maaf kepada orang kita gunjing tersebut, ini yang terkadang menjadi sulit bagi diri kita. Apalagi jika yang kita gunjing jumlahnya banyak sekali, naudzubillahi min dzaalik.

Dalam Sebuah hadit dari abu hurairoh, nabi Muhammad SAW bersabda :

Barangsiapa bersalah kepada saudaranya maka kita harus minta maaf kepada dia sebelum meninggal, karena jika tidak, maka amal kita akan dilimpahkan kepadanya, atau jika kita tak memiliki amal, maka amal buruk dia akan dilimpahkan kepada kita, Na’udzubillahimindzaalik. (HR Bukhari dan Muslim)

Tidak 100 % Haram

Al-Imam An-Nawawi rahimahullah berkata: “Ghibah dibolehkan dengan tujuan syariat yang tidak mungkin mencapai tujuan tersebut melainkan dengannya.”

Dibolehkah ghibah pada enam perkara:
1. Ketika terdzalimi.
2. Meminta bantuan untuk menghilangkan kemungkaran.
3. Meminta fatwa.
4. Memperingatkan kaum muslimin dari sebuah kejahatan untuk menasihati mereka.
5. Ketika seseorang menampakkan kefasikannya atau kebid’ahannya.
6. Memanggil seseorang yang dia terkenal dengan nama itu.
(Riyadhus Shalihin, bab “Apa-apa yang Diperbolehkan untuk Ghibah”)

1. Ketika terdzolimi, misalnya orang yang teraniaya mengadu kepada hakim, polisi dsb yg dianggap mampu untuk menolongya, Orang yang dianiaya tadi bolehlah mengucapkan: “Si Fulan itu menganiaya saya dengan cara demikian.”

2. Meminta bantuan untuk menghilangkan kemungkaran, Misalnya seseorang melihat suatu kemungkaran, maka orang itu bolehlah mengucapkan kepada orang yang ia harapkan dapat menggunakan kekuasaannya untuk menghilangkan kemungkaran tadi: “Si Fulan itu mengerjakan demikian, maka itu cegahlah ia dari perbuatannya itu,” atau lain-lain sebagainya.

3. Meminta Fatwa, misalnya seseorang bertanya kepada ulama dan berkata :”Saya dianiaya oleh ayahku atau saudaraku atau suamiku atau si Fulan dengan perbuatan demikian, apakah ia berhak berbuat sedemikian itu padaku? Dan bagaimana jalan untuk menyelamatkan diri dari penganiayaannya itu? Bagaimana untuk memperoleh hakku itu serta bagaimanakah caranya menolak kezalimannya itu?” dan sebagainya.
Pengumpatan semacam ini adalah boleh karena adanya keperluan. Tetapi yang lebih berhati-hati dan pula lebih utama ialah apabila ia mengucapkan: “Bagaimanakah pendapat anda mengenai seseorang atau manusia atau suami yang berkeadaan sedemikian ini ?” Dengan begitu, maka tujuan meminta fatwanya dapat dihasilkan tanpa menentukan atau menyebutkan nama seseorang. Sekalipun demikian, menentukan yakni menyebutkan nama seseorang itu dalam hal ini adalah boleh atau jaiz.

4. Meperingatkan kaum muslimin dari sebuah kejahatan untuk menasihati mereka. misalnya seseorang ingin menjadikan seorang yang tidak amanah sebagai orang kepercayaannya dalam mengurusi suatu urusan dalam keadaan ia tidak tahu keadaan orang tsb, maka boleh bahkan wajib bagi orang yang mengetahui keadaan orang tsb untuk memberitahukannya. Contoh lain : muhasabah kepada penguasa atau menyampaikan kepada umat bahwa kebijakan penguasa yang memprivatisasi BUMN adalah bertentangan dengan syariat Islam, maka ini juga tidak termasuk ghibah kepada penguasa.

5. ketika seseorang menampakkan kefasikan atau kebid’ahannya. Berkata ‘Abdullah bin Al-Imam Ahmad : “Abu Turab An-Nakhsyabi datang kepada ayahku (yaitu Al-Imam Ahmad, pent), ketika itu ayahku sedang menyatakan : “Fulan dha’if (lemah), fulan tsiqah (terpercaya). Maka berkatalah Abu Turab : ‘Wahai Syaikh, jangan meng-ghibahi para ‘ulama.’ Maka ayahku pun menoleh kepadanya dan berkata : “Celaka engkau, ini adalah nasehat, bukan ghibah!” )

Hasan al Bahsri berkata, “Tidak dianggap ghibah dalam membicarakan ahli bid’ah”. Beliau menambahkan,”Tiga orang yang menggunjing tidak diharamkan diantara mereka, karena ahli bid’ah yang berlebihan dalam kebid’ahannya.” Dalam riwayat lain, “Tidak ada ghibah bagi ahli bid’ah dan orang fasik yang menampakkan kesesatan mereka.” (Syarh Ushul I’tiqad Ahli Sunnah 1/140).

Ibrahim An Nakhai berkata,”Tidak ada ghibah (tidak disebut ghibah yang terlarang, red) bagi ahli bid’ah”. (Syarh Ushul I’tiqad Ahlu Sunnah, 1/140, Sunan Ad Darimi 1/120).

Sufyan bin ‘Uyainah berkata,”Membicarakan ahli bid’ah bukan termasuk perbuatan ghibah.” (Mukhtasar Al Hujjah, Nashr Al Maqdisi hal 538).

Imam Al- Auza’i berkata, “Pendahulu kalian sangat keras terhadap lisan mereka dalam membicarakan ahli bid’ah, sangat takut hati mereka dalam rangka menjelaskan kebid’ahan mereka. Apabila mereka melakukan bid’ah secara sembunyi-sembunyi, tidak satupun di antar ulama Salaf merobek kehormatan mereka yang telah tertutup rapi, karena Allah Ta’ala telah melindungi mereka dengan taubat. Namun jika mereka secara terang-terangan menampakkan kebid’ahan, mempropagandakan kebid’ahannya sehingga bid’ah semakin merajalela, maka menebar ilmu sebagai sumber kehidupan dan menyampaikan pesan Rasul sebagai bentuk rahmat agar menjadi pegangan bagi orang yang terus berbuat jahat dan ilhad (menyimpang, red) di hari kelak” (Al-Bida’, Ibnu Wadhdhah, hal. 45).

6. Memanggil seseorang yang dia terkenal dengan nama itu. misalnya menyebut Seseorang dengan kepincangannya dengan tujuan agar lebih yang mendengar lebih faham orang yang dimaksud dalam pembicaraan tanpa bermaksud merendahkan orang tersebut. tapi, jika bisa dilakukan tanpa menyebutkan kekurangan orang tersebut tentu adalah lebih didahulukan. Bila seseorang telah dikenal dengan julukan si pincang, si pendek, si bisu, si buta, atau sebagainya, maka kita boleh memanggilnya dengan julukan di atas agar orang lain langsung mengerti. Tetapi jika tujuannya untuk menghina, maka haram hukumnya. Jika ia mempunyai nama lain yang lebih baik, maka lebih baik memanggilnya dengan nama lain tersebut.

Dengan demikian tayangan-tayangan infotaintment di TV yang ada saat ini bisa anda nilai sendiri, apakah masuk dalam 6 kategori di atas ? Jika tidak berarti benarlah Fatwa PBNU itu, dan mari kita dukung.

referensi :
Kitab Riyadhusshalihin An Nawawi bab 256 “Uraian tentang ghibah yang dibolehkan”


Responses

  1. Postingan yang keren & bermamfaat.

    Iya tuh, yang namanya infotainment mesti peringati, biar nggak asal beberin aib org lain.

    Suka

  2. tidak banyak orang yang tau akan hal ini. Inilah yang harus di ketahui oleh manusia banyak yang hidup di dunia ini.

    Suka


Bagaimana tanggapan anda ?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: