Oleh: Refa | 27 September 2010

Mewaspadai Penyesatan Opini, Cerdaslah Menerima Informasi !


Sudahkah anda tahu, bahwa “War on Terrorism” paska runtuhnya WTC, akan terus digulirkan untuk memberangus gerakan Islam yang menyuarakan kebangkitan Islam ?  Lalu benarkah berita yang terkait terorisme adalah THE REAL FACT?? FAKTA YANG SEBENAR-BENAR FAKTA?? Atau SEBUAH REKAYASA UNTUK MELEGITIMASI OPINI PIHAK TERTENTU??…maka dengan kecerdasan berpikir, kita seharusnya bisa menilai, MANA FAKTA dan MANA OPINI???

Wahai orang-orang yang beriman, jika datang kepada kalian orang Fasik dengan membawa berita, maka telitilah berita itu agar kalian tidak memberikan keputusan pada suatu kaum tanpa pengetahuan sehingga kalian akan menyesali diri atas apa yang telah kalian kerjakan” (QS Al Hujurat (49) : 6)

Dalam ayat tersebut Allah memerintahkan kepada orang-orang beriman agar berhati-hati ketika ada oang fasik yang membawa berita, agar jeli memeriksanya dan tidak menelannya mentah-mentah. Jadi untuk menerima berita, kita harus melihat sumber beritanya,pertama adil (muslim dan tidak fasiq) ataukah kedua fasiq (menurut para ahli fiqih, melakukan dosa besar dengan sengaja atau terus-menerus melakukan dosa kecil) (Hafidz Abdurahman, 2002). Maka jika sumbernya dari orang fasiq, perlu dicek terlebih dahulu kebenarannya. Jika dari orang fasiq saja harus di cek dulu, apalagi dari orang kafir? Maka ketika pasca WTC runtuh, Bush mengatakan “war on terrorism”, seharusnya seorang muslim “TIDAK BOLEH PERCAYA”, karena sesungguhnya hanya manuver politik yang dilakukan AS untuk melanggengkan kepentingannya. Dan akhirnya kita bisa melihat efek dari OPINI tersebut, atas nama perang melawan terorisme, Taliban berhasil digulingkan dan menggantinya dengan penguasa boneka, pendirian pangkalan militer di Kirgistan dan Pakistan, penyusunan RUU terorisme di beberapa Negara, seperti Indonesia dan Pakistan, penandatanganan berbagai kerjasama  regional, kerjasama intelijen dan penangkapan bebagai tokoh Islam atas nama Perang Melawan Terorisme….LUAR BIASA kan dampaknya!!

Tapi bukankah pelakunya sungguh-sungguh umat Islam?….Mungkin yang tampak di permukaan, YA. Tapi jika kita sering mengamati kerja rapi para intelijen Internasional, kita tak akan mudah terkecoh. Masih ingatkah kasus Bom Bali? Ya, Amrozi dkk memang mengakui telah melakukan pengeboman, tapi ada banyak kejanggalan yang tidak dikuak oleh  media. Saat itu Imam Samudera menyampaikan rasa herannya di depan pengadilan tentang besarnya bom yang meledak (bahkan para ahli menyimpulkan termasuk mikronuklir), dan ia mengatakan itu diluar kemampuannya. Ia juga menyampaikan rasa kagetnya mendapati mobil yang dipakai dalam aksi itu adalah Mitsubishi L 300, padahal katanya dalam rapat terakhir disepakati Suzuki Carry. Berdasarkan fakta tersebut, disinyalir telah terjadi operasi intelijen dengan pola “lima si”:

  1. infiltrasi (terhadap kelompok Islam yang memiliki semangat perlawanan),
  2. radikalisasi (dipompa untuk lebih bersemangat melawan),
  3. provokasi (di dorong untuk melakukan tindakan),
  4. aksi (digerakkan melalui tindakan konkret berupa pengeboman di sejumlah sasaran dan
  5. stigmatisasi (opini sesuai dengan keinginan, seperti “Indonesia sarang teroris”, “pelaku islam garis keras”, “pelaku gerakan yang ingin menegakkan Negara Islam” dsb) (Farid Wajdi, 2008)

Atau masih ingatkah penggerebekan Densus 88 di sebuah rumah “kosong” di Temanggung, sebuah aksi yang “penuh tanda tanya”, mengapa “korban” harus dibunuh dengan cara seperti itu? Padahal dikepung sebanyak itu, jelas tak akan berkutik, sekalipun tanpa tembakan membabi buta, lalu keyakinan apa yang bisa didapatkan dari korban yang “sudah tak bernyawa’? selain Opini ‘Tim Densus berhasil membunuh seorang Teroris”?. Atau masih ingatkah bom JW Marriot dan Ritz Carlton bertepatan dengan jadwal lawatan MU? Mengapa “bom rakitan” bisa lolos dari serangkaian pemeriksaan yang berlapis, padahal JW Marriot pernah mengalami kejadian serupa di tahun 2003 lalu, dan pada saat kejadian tengah terjadi pertemuan CEO dari berbagai perusahaan besar, mustahil jika pengamanannya bermasalah, so whats wrong? Kenapa bisa kecolongan juga?

Seandainnya penonton bisa begitu cerdas menyerap informasi, tidak melulu menelan opini media yang “penuh rekayasa”, pastilah tak akan segampang itu mengarahkan “opini” publik. Di era 1970-an Indonesia pernah melakukan rekayasa opini untuk menciptakan citra buruk terhadap umat Islam dengan “serangkaian kasus buatan” , sehingga menjadi legitimasi dilakukannya pemberangusan aktivitas dakwah di masjid-masjid.

Bias Informasi Media

Media, memang menjadi alat yang efektif dalam sebuah agenda propaganda. Itulah mengapa Negara kuat termasuk Yahudi begitu berambisi menguasai Media. Salah satu taktik konspirasi yang dilakukan Free Masonry (organisasi Yahudi) adalah Menguasai alat komunikasi dan media massa sebagai senjata dalam membuat berita yang membingungkan, atau memalsu kenyataan, atau memutarbalikkan fakta, sehingga kekacauan dunia bisa disetir oleh mereka (William G. Carr, 2004). Informasi menurut Peter F. Drucker, sudah bersifat transnasional penuh saat ini, yang tidak mungkin dihambat lagi oleh pemerintah, tak ada lagi batas-batas nasional untuk informasi. Karena itu menurut Alfin Toffler, wajar jika di seluruh dunia terjadi pertempuran untuk merebut kontrol terhadap pengetahuan dan alat-alat komunikasi. Maka wajar akhirnya arus informasi global berjalan searah : dari dunia kesatu (Negara-negara maju) ke dunia ketiga (Negara berkembang), dimana dalam lingkup global semua akan merujuk  kantor-kantor berita utama yaitu  Associated Press (AP), United Press International (UPI), Reuters, Agence France Press (AFP) dan TASS. Dengan dominasi alat-alat komunikasi itulah, Negara-negara maju leluasa melakukan “rekayasa infomasi global”.(Adian Husaini, 2002)

Maka tidak aneh jika pernyataan Bush tentang “War on Terrorism” terhadap gerakan-gerakan Islam diamini di seluruh dunia, sekalipun hanya opini, karena FAKTA SESUNGGUHNYA, AMERIKA LAH BIANG TERORISME DUNIA dengan membombardir Irak dan Afghanistan atas dasar kebohongan fakta!!! Isu ancaman Islam pernah ditiupkan pemerintah Serbia sebelum melakukan aksi pembasmian etnis muslim Bosnia. Opini holocaust menjadikan Yahudi sebagai bangsa yang perlu dikasihani, sekalipun faktanya penuh rekayasa. HAMAS diopinikan Kelompok Islam Garis Keras, sekalipun faktanya mereka adalah pejuang yang menuntut pembebasan Palestina atas penjajahan Israel, Pejuang Chechnya di opinikan sebagai pemberontak, sekalipun  faktanya  mereka memperjuangkan kemerdekaannya dari Rusia. Atau sebaliknya, para tokoh yang sejalan dengan opini AS, akan disematkan pejuang HAM, tokoh demokrasi seperti yang disematkan para tokoh jaringan Islam Liberal di Indonesia.

Mewaspadai Penyesatan Opini

Sekali lagi, penyesatan opini adalah hal yang harus terus dilawan oleh seluruh kaum muslimin. Orang yang termakan opini bahwa mendirikan Negara Islam akan mengancam/menghancurkan Indonesia  tentu saja tidak akan mendukung perjuangan ini, apalagi ikut memperjuangkannya, bahkan akan turut menentangnya, orang yang termakan opini bahwa memperjuangkan syariah akan dicap teroris, maka mereka tidak akan mendukung, apalagi memperjuangkannya, orang yang termakan opini syariah Islam tidak sempurna dan perlu diperbarui, tentu akan menjadi penentang ayat-ayat Allah, seperti para kaum liberal. Padahal mestinya mereka tabayun/crosscheck atau mencari tahu terlebih dulu apa yang sesungguhnya diperjuangkan, apa mungkin orang yang memperjuangkan “syariah” akan melakukan tindakan yang “bertentangan dengan syariah?”, jika begitu, bagaimana mungkin kita bisa meraih dukungan umat?)

Maka cerdaslah dalam menyerap informasi, agar bisa membedakan secara jelas, mana fakta dan mana opini!!! Karena sehebat apapun suatu kebenaran, jika tidak diperjuangkan dengan baik, akan dilibas oleh kebatilan yang diperjuangakn dengan cara-cara yang lebih baik.

Pada hari itu muka mereka dibolak-balikkan dalam neraka, mereka berkata : Alangkah baiknya andaikata kami taat kepada Allah dan taat (pula) kepada Rasul. Dan mereka berkata:“Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami telah mentaati pemimpin dan pembesar-pembesar kami, lalu mereka menyesatkan kami dari jalan yang benar. Ya Tuhan kami, timpakanlah kepada mereka azab dua kali lipat dan kutuklah mereka dengan kutukan yang besar” (Al Ahzab : 66-68).

JADI, CERDASLAH MENERIMA INFORMASI!!! Wallahualam.

*teruntuk para pejuang syariah dan khilafah, sejak awal kita tahu resiko dakwah. Bukankah Rasulullah ketika berinteraksi dengan umat juga mengalami penyiksaan fisik, propaganda dan pemboikotan? Semoga tetap istiqomah, karena inilah jual beli kita dengan Allah, jual beli yang tidak akan pernah merugi, InsyaAllah.*

“Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al Quran. dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan Itulah kemenangan yang besar.)” (QS. At Taubah :111)

Sumber :

  1. Adian Husaini. Penyesatan Opini : sebuah Rekayasa Mengubah Citra. 2002. GIP
  2. Hafidz Abdurahman. Tafsir surat Al-Hujurat (49) : 6, Cara Menerima Informasi. Al-Waie No.27 Nopember 2002 :25-29
  3. Faid Wjdi. Ketidakadilan di Balik Eksekusi Amrozi dkk. Al-Waie No.100 Desember 2008 : 3-4
  4. William G. Carr. Yahudi Menggenggam Dunia. Pustaka Al-Kautsar. 2004

Bagaimana tanggapan anda ?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: