Oleh: Refa | 9 Oktober 2010

Membongkar Skenario Penjajah di Balik Kontra Terorisme dan Radikalisme


Oleh Hidayatullah Muttaqin, SE, MSI

Disampaikan dalam

MAJELIS SYAWAL HIZBUT TAHRIR INDONESIA KALIMANTAN SELATAN

Ahad, 3 Oktober 2010, Aula Mahligai Pancasila Banjarmasin


Pengantar

Umat Islam adalah umat yang terbaik (khairu ummah). Umat yang diturunkan untuk manusia. Umat yang menyeru kepada yang ma’ruf dan mencegah kemunkaran. Umat yang beriman kepada Allah SWT. Itulah identitas yang dilekatkan Allah kepada umat Islam dalam QS Ali Imran ayat 110.

Namun, hari ini kenyataan yang kita lihat jauh dari gambaran sebagai umat yang terbaik. Hampir setiap waktu agama ini dan umatnya dihina, difitnah, dan dianiaya.

Tidak lepas dari ingatan kita di bulan Ramadhan yang lalu. Bulan yang semestinya umat Islam khusyuk beribadah diteror oleh rencana peringatan pembakaran al-Qur’an di Amerika Serikat.

Orang yang beriman kepada al-Qur’an pasti marah dan sedih kitab sucinya dibakar. Bahkan rencana hari pembakaran al-Qur’an pada waktu itu oleh gereja Avangelis di Florida, AS, dikaitkan dan disatukan dengan hari peringatan serangan 11 September (11/9) yang menimpa gedung WTC, New York. Di halaman Facebook jemaat gereja ini menulis: “Islam adalah setan.

Dikaitkannya pembakaran Qur’an dengan serangan 11/9 disebabkan Barat telah menjadikan opini dunia bahwa serangan tersebut dilakukan oleh teroris Islam. Inilah yang menginspirasi pendeta Terry Jones mempelapori hari pembakaran al-Qur’an. Ia mengatakan “Islam dan hukum syariah bertanggungjawab dalam serangan 11 September”. Terry Jones pun menyatakan aksi mereka ditujukan pada kelompok Islam radikal (MediaIndonesia.com 7/9).

Tentu kita sangat miris mengapa al-Qur’an dibakar dan Islam dijadikan tersangka teroris padahal tidak ada sedikit pun bukti yang menunjukkan keterkaitan dengan peristiwa 11/9 apalagi sebagai pelaku serangan. Justru fakta dan data mengindikasikan serangan tersebut adalah rekayasa pemerintahan Bush agar menjadi pembenar invasi militer mereka ke Afghanistan dan Irak dengan berlindung pada dalih memerangi terorisme.

Kita juga merasa aneh dengan sikap pemerintahan presiden Obama yang menyatakan gereja Avangelis di Florida tidak mewakili sikap dan pemahaman pemerintah Amerika. Sebab jika tidak setuju seharusnya pemerintah Obama dengan kewenangan yang dimilikinya dapat melarang dan menghukum kelompok ini. Tentu kebebasan berpendapat terus menjadi dalih tidak adanya tindakan terhadap pelaku.

Bangkitnya Islamophobia di negara-negara Barat

Sikap pendeta Terry Jones dan kelompoknya disebabkan oleh kebencian dan fitnah terhadap Islam yang dipupuk sejak era Perang Salib dulu oleh negara-negara Barat terhadap masyarakatnya, sehingga Barat mengalami sindrom Islamophobia.

Islamophobia yang disengaja ini telah menciptakan ketakutan dan kebencian mereka terhadap hal-hal prinsip dalam Islam seperti al-Qur’an, syariah, mesjid, dan jilbab. Mereka menyebut orang-orang Islam yang berpegang teguh pada al-Qur’an dan sunnah Rasulullah SAW, taat menjalankan dan menegakkan syariah, menutup aurat dan bergaul secara Islami sebagai gambaran orang radikal dan ekstrimis. Dan setiap yang radikal diidentikkan dengan teroris.

Sikap Islamophobia di Barat saat ini semakin memuncak dan merata di segenap negara-negara Barat. Di mana-mana Islam dipropagandakan sebagai agama teroris yang disertai dengan penghinaan yang memasuki wilayah sensitif.

Kita tidak akan lupa bagaimana penghinaan terhadap kekasih kita Nabi Muhammad SAW telah memicu kemarahan umat Islam di seluruh dunia. Adalah surat kabar terbesar Denmark, Jyllands-Posten yang memuat 12 kartun penghinaan terhadap Nabi Muhammad SAW pada 30 September 2005 yang memulainya. Dalam waktu dekat bulan ini, koran Jyllands-Posten kembali menerbitkan kembali kartun tersebut dalam bentuk buku.

Tragis, sang kartunis Kurt Westergaard tidak dapat dijangkau hukum untuk diadili. Sebaliknya dilindungi oleh pemerintahan Barat atas nama kebebasan berpendapat. Bahkan baru-baru ini (8/9) di bulan Ramadhan menjelang hari raya Idul Fitri pemimpin Jerman, Kanselir Angela Markel memperolok-olok Islam dengan memberikan penghargaan kepada kartunis tersebut karena jasanya mengusung kebebasan pers.

Di bulan Ramadhan juga, mantan perdana menteri Inggris, Tony Blair dalam wawancaranya dengan BBC (3/9) menyatakan peristiwa 11/9 telah merubah pemahamannya dan memandang Islam radikal sebagai ancaman terbesar dunia saat ini. Hal ini tidak aneh sebab Blair memandang Islam sebagai ideologi setan (BBC News, 16 Juli 2005).

Blair mendefinisikan Islam sebagai ideologi setan karena Islam mengajarkan harus dibebaskannya Palestina dari pendudukan Israel, membebaskan negeri-negeri Islam dari penjajahan dan pengaruh nilai-nilai Barat yang rusak, menjadikan syariah sebagai hukum, dan menyatukan negeri-negeri Islam dalam sistem yang diwariskan Nabi SAW, yakni Khilafah.

Negeri-negeri Barat saat ini adalah tempat yang subur tumbuhnya Islamophobia dan kekerasan terhadap umat Islam. Opini umum di Barat yang menggambarkan Islam sebagai agama kekerasan, teroris, bahkan disebut Islam sama dengan setan telah menjadikan penghinaan terhadap Islam sebagai komoditas politik.\

Di Belanda, Partai Kebebasan (PVV) yang didirikan Geert Wilders berhasil memperoleh 24 kursi parlemen dari 150 kursi sehingga menempatkan PVV pada posisi ke-3 dalam pemilu Juni 2010 yang lalu. Wilders berhasil menarik simpati warga Belanda berkat kampanye anti Islam. Wilders mengusung pelarangan al-Qur’an, imigran muslim, dan burqa. Aksi kontraversial Wilders membuat film Fitna dan mempublikasikannya pada 27 Maret 2008 telah membuat Wilders dan partainya semakin terkenal.

Di negara-negara Eropa lainnya, politisi dan partai juga semakin intens mengangkat tema anti Islam. Di Swedia partai kanan radikal Demokrat Swedia berhasil meraih 20 kursi berkat kampanye anti imigran muslim. Di Denmark, Swiss, dan Perancis selain kampanye anti imigran juga pelarangan burqa dan larangan pembangunan mesjid. Bahkan sebuah partai politik di Austria, Partai Kebebasan (FPOe) baru-baru ini di situs resminya membuat game online anti Islam dengan menjadikan muazin dan menara mesjid sebagai sasaran tembak. Tujuan pembuatan game online ini adalah untuk menarik minat penduduk Austria memilih Partai Kebebasan.

Di Amerika Serikat, rencana pendirian mesjid 2 blok dari ground zero bekas reruntuhan WTC New York dimanfaatkan sejumlah politisi untuk meraih suara dalam pemilu sela November nanti. Susan Lerner Direktur Eksekutif New York Office of Watchdog Group mengungkapkan mantan ketua kongres AS Newt Gingrich dari Partai Republik dan anggota senat dari Partai Demokrat Harry Reid adalah pihak yang bermain di air keruh di balik penentangan pembangunan mesjid. Gingrich pernah menyatakan, “pembangunan mesjid sama saja menempatkan tanda swastika Nazi di samping museum holocaust” (Republika, 26/8/2010).

Bangkitnya Islamophobia di Barat didorong oleh kondisi semakin pesatnya perkembangan jumlah pemeluk Islam di Eropa dan Amerika, bahkan di tingkat dunia. Pew Research Center dalam laporannya yang berjudul Memetakan Populasi Muslim Global, menyebutkan pertumbuhan populasi muslim meningkat 300% selama 37 tahun dari 500 juta populasi pada tahun 1973 menjadi 1,57 milyar populasi tahun ini. Dari 1,57 milyar orang Islam, seperlimanya atau 300 juta populasi muslim tinggal di negeri-negeri non muslim (Republika, 10/7/2010).

Jadi sekarang 1 dari 4 penduduk dunia adalah muslim. Sementara itu, perkembangan populasi Muslim di Barat meningkat luar biasa sehingga di Barat muncul peringatan jika komposisi dan pola pertumbuhan pendudukan muslim tidak berubah, maka pada tahun 2050 mayoritas penduduk Eropa adalah muslim.

Berdasarkan kajian sejarah, apabila angka kelahiran di bawah 1,9 maka sebuah negara/peradaban akan jatuh. Menurut data yang dipetik Eramuslim.com (31/7/2010), di Eropa angka kelahiran rata-rata 1,38. Ini adalah indikasi akan jatuhnya peradaban Eropa ditinjau dari jumlah penduduk.

Angka kelahiran tertinggi Eropa di Prancis yakni 1,8. Angka ini masih di bawah angka kelahiran minimal seharusnya. Khusus angka kelahiran muslim di Perancis jauh melebihan angka kelahiran di Perancis sendiri yaitu 8,1 sehingga diprediksi dalam waktu 39 tahun mayoritas penduduk Perancis adalah muslim. Sejak 1990 hingga sekarang diperkirakan dari pertumbuhan jumlah penduduk Eropa, 90% di antaranya adalah pertumbuhan muslim.

Hal yang serupa juga terjadi di benua Amerika. Di Kanada, dari tahun 2001 hingga 2006 pertambahan jumlah penduduk mencapai 1,6 juta. Dari jumlah tersebut 1,2 juta di antaranya adalah imigran. Di Amerika, jumlah muslim hanya 100 ribu pada 1970. Kini populasi muslim di AS lebih dari 9 juta.

Tingginya pertumbuhan muslim di Barat ditopang oleh 3 faktor utama, yaitu: 1) imigrasi muslim ke benua Eropa dan Amerika yang menjadi generasi awal. 2) Angka kelahiran muslim yang sangat tinggi. 3) Semakin banyaknya mualaf dari penduduk asli kulit putih.

Hal inilah yang semakin memicu sindrom Islamophobia di Barat yang dimanifestasikan dalam bentuk opini dan kebijakan pelarangan terhadap imigran muslim, larangan pembangunan mesjid, larangan burqa, diskriminasi di tempat kerja dan sekolah, serta berbagai aksi kekerasan dan pengrusakan.

Terancamnya Penjajahan Barat dan Skenario Terorisme

Barat telah menghadapi ancaman kebangkrutan ideologi yang nyata akibat rusaknya nilai dan aturan yang mereka adopsi. Kemerosotan moral dan kerusakan tatanan sosial masyarakat Barat melahirkan jutaan aborsi setiap tahunnya. Paham feminisme mendorong wanita mengejar karir sedangkan pasangan umur produktif enggan memiliki anak. Sementara itu, pergaulan bebas dan pornografi tidak hanya menyuburkan perzinaan tetapi juga maraknya kawin sesama jenis yang tentu saja tidak mungkin menyebabkan kelahiran.

Akibatnya, secara alami pertumbuhan penduduk Barat sangat minim dengan angka kelahiran di bawah ambang batas minimum bertahannya sebuah peradaban. Ke depan mayoritas penduduk negara-negara Barat adalah kaum jompo dengan jumlah umur produktif yang minim. Umur produktif yang minim juga berarti semakin minimnya pemuda yang dapat direkrut menjadi tentara dan polisi. Artinya ke depan kekuatan personil militer dan pertahanan Barat akan semakin berkurang.

Di samping itu, Barat juga menghadapi kehancuran ekonomi dengan krisis keuangan yang datang silih berganti. Krisis mengakibatkan semakin bengkaknya angka pengangguran dan kemiskinan di Barat. Kondisi ini menjadi faktor pendorong meningkatnya kriminalitas dan kejahatan. Masalah yang tidak kalah penting lainnya adalah semakin banyaknya pengangguran dan kemiskinan menciptakan bom waktu ketidakpuasan terhadap sistem dan pemerintahan negara-negara Barat. Ini menjadi pemicu kerusuhan dan krisis sosial-politik.

War on terrorism (WOT) atau perang terhadap terorisme yang secara masif dicanangkan oleh Amerika sejak serangan WTC 11 September 2001 adalah sebuah dalih untuk mengongkosi kebangkrutan ekonomi Amerika.

Melalui WOT Presiden AS George W Bush mengalihkan keresahan rakyat AS dari himpitan ekonomi dengan mengetuk semangat patriotisme/heroik rakyatnya. Dengan cara ini juga Bush memberikan kesempatan kepada para korporat pendukungnya dalam pemilu untuk meraih keuntungan finansial dari kontrak minyak, logistik perang, industri senjata, dan proyek rekonstruksi Irak. Tragis untuk mencapai hal ini Amerika Serikat mengobarkan perang dan membunuh jutaan rakyat Irak dan Afghanistan.

Di samping motif ekonomi, faktor fundamental yang melahirkan WOT adalah perang ideologi. Di tengah kebangkrutan ideologi Kapitalisme, kebangkitan Islam semakin nampak. Semakin banyak kaum Muslim yang menghendaki diterapkannya syariah Islam dan persatuan umat dalam sistem Khilafah. Semakin intens penentangan dan pembongkaran atas makar dan penjajahan Barat di dunia Islam. Tidak aneh jika Presiden Bush pun mengatakan perang terhadap terorisme adalah lanjutan dari perang salib (the crusade).

Hal ini semakin mengancam ideologi Kapitalisme dan eksistensi penjajahan Barat sedangkan penjajahan adalah metode Barat untuk mempertahankan ideologi dan kemakmuran negaranya. Barat menciptakan WOT yang sesungguhnya tidak didesain untuk memerangi teroris melainkan memerangi ulama dan kelompok yang membangkitkan kesadaran Islam di tengah umat untuk tegaknya syariah dan Khilafah. Sebaliknya Barat menciptakan kelompok-kelompok teroris dan merekayasa berbagai serangan teror.

Barat menciptakan propaganda dan opini terorisme untuk membenarkan tindakan mereka, sebagaimana dalih AS dalam invasi Irak untuk mencegah jatuhnya senjata pemusnah massal ke tangan teroris yang hingga sekarang tidak pernah terbukti. Presiden Bush menempatkan negara-negara di dunia pada 2 pilihan, apakah ikut bersama AS memerangi terorisme ataukah bersama teroris.

Meski pemimpin negara-negara Barat telah berganti, WOT tidak pernah berhenti. Barat secara kuat dan terus-menerus memobilisasi terciptanya opini terorisme sebagai musuh dunia, memaksa banyak negara melahirkan perangkat hukum dan organ negara yang secara khusus menindak terorisme.

Barat akan selalu mengkaitkan dan menjadikan radikalisme sebagai sumber terorisme dengan ciri utama: 1) umat Islam yang berpegang teguh pada al-Qur’an, 2) umat Islam yang berupaya mendakwahkan syariah Islam sebagai solusi dan aturan yang harus ditegakkan, 3) umat Islam yang ingin bersatu dalam sistem yang diwariskan Nabi SAW yakni Khilafah.

Meski tidak ada kaitan sama sekali dengan terorisme karena ditempuh dengan cara damai dan intelektual, Barat pasti mempropagandakan opini bahwa umat yang melakukan tiga langkah tersebut sebagai teroris dan musuh dunia.

Sesungguhnya sistem khilafah merupakan bagian dari syariat Islam. Tanpa sistem ini syariah tidak dapat diterapkan. Dan tanpa syariah umat Islam tidak akan menjadi umat yang terbaik. Tanpa syariah kita tidak akan pernah dapat menuntaskan kriminalitas, korupsi, kebodohan, kemiskinan, dan ketimpangan. Tanpa syariah setiap waktu kita dihina, difitnah, dan dianiaya oleh Barat tanpa adanya pembelaan dan perlindungan dari penguasa negeri Islam.

Syariah adalah ancaman bagi eksistensi penjajahan Barat atas dunia termasuk penjajahan mereka terhadap negeri kita Indonesia. Hal ini dengan jelas diungkapkan Menteri Dalam Negeri Inggris, Charles Clarke pada 6 Oktober 2005, “Tidak akan ada negosiasi mengenai pembentukan Khilafah; tidak akan ada negosiasi mengenai kewajiban menerapkan hukum syariah” (www.heritage.org, 21/10/2005).

Sementara itu, dalam laporan terbaru yang berjudul Sharia a Danger to US, Security Pros Say, sebuah panel ahli keamanan nasional Amerika Serikat memberikan rekomendasi radikal kepada pemerintahan Obama bahwa syariah Islam adalah ancaman bagi negara tersebut. Panel ini juga menyampaikan sangat pentingnya keamanan AS dan peradaban Barat untuk mendukung tokoh dan kelompok Islam moderat (www.washingtontimes.com, 14/9/2010). Islam moderat adalah istilah yang digunakan Barat terhadap kelompok dan intelektual yang anti terhadap agamanya sendiri, anti al-qur’an, syariah dan khilafah. Istilah lainnya adalah Islam liberal.

Proyek Kontra Terorisme dan Radikalisme di Indonesia: Turunan Skenario Global

Berdasarkan fakta di atas, maka apa yang terjadi pada tingkat global akan diturunkan ke tingkat domestik. Di Indonesia, Barat menggunakan para propagandis dari kalangan elit penguasa dan politisi sekuler, kalangan intelektual liberal, dan media. Barat juga akan memaksa dilahirkannya undang-undang serta peraturan yang menjadi legitimasi penangkapan terhadap para ulama dan aktivis Islam di Indonesia dengan tuduhan terlibat terorisme.

Simposium Nasional “Memutus Mata Rantai Terorisme dan Radikalisme” di Jakarta 27 Juli lalu yang menghasilkan sepuluh rekomendasi harus dikritisi khususnya mengenai radikalisme sebagai sumber persemaian terorisme. Termasuk keberadaan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) yang dibentuk dengan Kepres nomer 46 2010 yang ditandatangani presiden 16 Juli 2010 harus dikritisi pula.

Paska simposium muncul kasus Ahmadiyah di Kuningan pada 29 Juli yang dimanfaatkan dengan gencar untuk membentuk opini anarkisme Islam dan pembubaran ormas Islam. Sembilan Agustus, Presiden SBY mengintruksikan Menkopolkam untuk menindak tegas ormas anarkis sehubungan dengan kasus HKBP di Bekasi (8/8). Tanggal 30 Agustus 2010, Kapolri Bambang Hendarso Danuri mengusulkan kepada DPR untuk mengamandemen UU Nomer 8 1985 tentang Ormas agar dapat membekukan ormas yang anarkis. Langkah Kapolri tersebut mendapatkan dukungan Menkopolhukam Djoko Suyanto.

Kasus HKBP yang terjadi kembali pada 12 September tiga hari setelah berakhirnya Ramadhan semakin meningkatkan tensi opini yang menyudutkan Islam. Ironis, perkelahian 200 orang jemaah HKBP dengan 10 pemuda Islam melahirkan berita penyerangan jemaah HKBP. Peristiwa ini sebenarnya berasal dari ketidaktaatan HKBP terhadap keputusan pemerintah kotamadya Bekasi dan konvoi ritual liar jemaah HKBP setiap hari minggu yang berpapasan dengan 10 pemuda di jalan saat mereka menuju mesjid Nurul Huda.

Pada hari itu juga (ahad, 12/9), Presiden SBY langsung memerintahkan polisi untuk memburu, mengejar, menangkap, dan mengadili pelaku tindak kekerasan terhadap 2 pendeta HKBP. Presiden juga menyatakan tidak ada ruang bagi pelaku tindak kekerasan (www.metrotvnews.com, 12/9/2010). Sikap presiden yang sangat over responship ini semakin menyudutkan umat Islam. Sedangkan media terus memanipulasi berita, membangun opini organisasi radikal adalah pelaku kekerasan dan anarkisme.

Di sisi lain, opini terorisme semakin diangkat dengan penangkapan Ustadz Abu Bakar Ba’syir 9 Agustus 2010 setelah satu hari sebelumnya (8/8) di Bandung Presiden SBY menyatakan kepada media ada teroris yang mentarget dirinya. Polri menuduh Ustadz Abu Bakar Ba’syir sebagai otak dan penyandang dana terorisme. Tidak lama kemudian 18 Agustus terjadi perampokan terhadap Bank CIMB Niaga cabang Medan. Pada 20 September Kapolri membangun opini tujuan perampokan bank di Medan untuk pendanaan terorisme. Di Mabes Polri (24/9), Kapolri kembali beropini bahwa tujuan teroris dengan cara merampok adalah untuk mendirikan negara Islam. Menurut Kapolri, paham radikal membolehkan perampokan dari harta orang-orang kafir.

Pada bagian lain, institusi pendidikan umum dan agama di Indonesia dari tingkat menengah hingga perguruan tinggi bisa saja diintervensi untuk mencegah apa yang disebut radikalisme sumber persemaian terorisme. Kementerian Pendidikan Nasional dan Kementerian Agama hingga perangkat di bawahnya mungkin sekali dikoordinir untuk menjauhkan sekolah dan perguruan tinggi dari pengajian dan kegiatan dakwah Islam.

Dengan proyek kontra terorisme dan radikalisme, kegiatan-kegiatan ke-Islaman yang sifatnya membangun kesadaran umat, membongkar makar penjajah dan kerusakan sistem, menegakkan syariah Islam dan khilafah akan dipersulit dan dihalang-halangi. Di sinilah kelompok dan intelektual liberal akan bermain untuk memanipulasi pemahaman keagamaan masyarakat yang memfasilitasi atau menjadi bagian dari kegiatan ke-Islaman tersebut.

Mengingat kondisi global dan nasional sekarang ini yang semakin menekan umat Islam, penting bagi kita untuk selalu bertabayun terhadap informasi yang menyudutkan ulama dan aktivis Islam, gerakan dan ormas Islam. Kita harus dapat memfilter berita-berita sampah dari media tidak bermutu yang selalu menyudutkan umat Islam seperti berita kasus HKBP, Ahmadiyah, dan terorisme, dan informasi yang sifatnya mengadu-domba umat.

Untuk itu umat harus mengambil langkah penting, yakni merapatkan barisan, membongkar makar penjajah di Indonesia, dan giat membangun solusi Islam atas permasalahan negeri kita. Satu pemahaman yang harus kita bangun adalah: Membangun Persatuan Umat. Yakni persatuan yang dibingkai atas dasar akidah Islam dalam koridor syariah dengan kesatuan institusi khilafah.

Penutup

Kontra terorisme dan radikalisme di Indonesia dilatarbelakangi dan didorong oleh kondisi global terancamnya penjajahan Barat atas dunia. Proyek ini tidak ditujukan untuk pemberantasan terorisme sebab yang mereka targetkan adalah ulama, aktivis, dan kelompok Islam ideologis yang memperjuangkan syariah dan khilafah dengan metode intelektual non kekerasan. Proyek ini menciptakan opini manipulatif bahwa kaum radikal yang mengusung ide syariah dan khilafah terkait dengan terorisme.

Islam dan umat Islam bukanlah ancaman bagi Indonesia. Justru Islam adalah solusi untuk negeri kita. Inilah yang diemban Hizbut Tahrir membangun kesadaran umat; bahwa akar masalah di negeri kita karena tidak diterapkannya syariah Islam. Sedangkan penjajahan di Indonesia dan sistem kufur adalah faktor utama yang menghalangi penerapan syariah. Untuk itu umat harus bersatu memutus mata rantai penjajahan di Indonesia demi tegaknya syariah dan khilafah. []

Hidayatullah Muttaqin, SE, MSI adalah ketua Lajnah Siyasiyah DPD I HTI Kalsel dan dosen Prodi Ekonomi Pembangunan Fakultas Ekonomi Universitas Lambung Mangkurat Banjarmasin.


Bagaimana tanggapan anda ?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: