Oleh: Refa | 2 Februari 2011

Mewujudkan Perubahan Hakiki (Belajar dari Gagalnya Revolusi di Negeri-Negeri Muslim)


Mesir bergolak oleh aksi massa besar-besaran sejak 25 Januari lalu. Lebih dari 125 orang tewas dalam rangkaian aksi unjuk rasa itu dan lebih dari 1000 orang lainnya ditangkap pasukan keamanan Mesir.

Revolusi Mesir ini diilhami oleh Revolusi Melati di Tunisia yang berhasil mengusir presiden Tunisia, Zine El Abidine Ben Ali, setelah berkuasa selama 23 tahun. Inspirasi itu juga telah menjalar ke Aljazair, Yaman, Yordania. Dan mungkin juga akan menjalar ke Syria, Libia, Sudan, Saudi Arabia dan negara lainnya. Rangkaian semua itu digambarkan sebagai revolusi arab yang berujung perubahan di dunia Arab.

Perubahan Semu

Revolusi Melati di Tunisia memang bisa mengusir diktator Zine El Abidine Ben Ali, setelah 23 tahun berkuasa. Setelah itu, kendali negara beralih ke tangan Mohammed Gannouchi, Kallal, Fuad Mebazza. dan pemerintahan persatuan. Sayangnya mayoritas mereka adalah orang-orang Ben Ali dan tetap dekat dan loyal ke Prancis.

Di Mesir, Hosni Mubarak dipastikan tidak bisa bertahan dan harus turun. Presiden Barack Obama, Senin (31/1), mendesak ‘transisi yang tertib dan mulus’ untuk demokrasi Mesir (republika.co.id, 31/1). Di lain pihak, 27 menlu Uni Eropa juga mendesak Kairo untuk mengambil pendekatan selangkah demi selangkah, dimulai dengan (pembentukan) pemerintah sementara barbasis luas dan berpuncak dengan pemilihan demokratis (Kompas, 1/2).

Pihak-pihak oposisi Mesir, termasuk sebagian besar dari mereka yang telah bergabung dalam Koalisi Nasional untuk Perubahan di bawah Mohammed ElBaradei, juga menyerukan dibentuknya pemerintahan transisi yang melibatkan semua pihak terutama oposisi. Mereka menunjuk ElBaradei -sebagian lain menunjuk Amr Mousa, yang menjabat sebagai sekjen Liga Arab, dan mantan Menlu Mesir- untuk menegosiasikan hal itu dengan pemerintah (lihat, Aljazeera.net, 31/1). Di sisi lain, Wapres Omar Suleiman menyatakan (1/2) bahwa ia ditugaskan melakukan dialog dengan kekuatan oposisi tentang sejumlah masalah terutama reformasi konstitusi dan yuridis (BBC.co.uk/Arabic, 1/2).

Maka hasil revolusi Mesir pun bisa diprediksi. Mubarak turun dan dibentuk pemerintahan transisi. Pemerintahan transisi maksimal hanya satu tahun. Tugasnya memastikan terjadinya reformasi konstitusi dan pelaksanaan pemilu yang demokratis. Reformasi konstitusi dilakukan untuk membatasi kekuasan presiden, menguatkan posisi dan kekuasaan perdana menteri, menguatkan posisi parlemen dan terbentuknya aturan yang menjamin pelaksanaan pemilu demokratis. Itulah hasil-hasil yang sangat mungkin terjadi di Mesir mirip yang terjadi di Tunisia.

Revolusi Melati di Tunisia yang menginspirasi revolusi arab hanya membuahkan perubahan rezim. Revolusi Mesir kali ini agaknya juga berakhir pada pergantian rezim semata, tanpa perubahan sistem yang berarti. Tentu hal itu sungguh disayangkan. Apalagi jika orang-orang baru, baik di Tunisia maupun Mesir, tetap saja dekat atau loyal kepada barat, baik AS atau Eropa, terutama Inggris dan Prancis. Padahal untuk itu ratusan nyawa dan darah suci anak-anak kaum Muslim harus menjadi tumbalnya.

Itu bukan yang pertama di dunia Islam. Reformasi di Indonesia, misalnya, memang berhasil menumbangkan Soeharto. Namun hingga kini persoalan Indonesia belum selesai. Apa yang di era Soeharto dikritik oleh demonstran seperti maraknya korupsi, kolusi, mafia peradilan, kemiskinan, justru kembali berulang saat ini. Dalam beberapa hal bahkan lebih parah. Kehidupan ekonomi rakyat pun tidak lantas membaik pasca reformasi. Era reformasi justru melahirkan kebijakan ekonomi kapitalisme neo liberal anti rakyat seperti privatisasi, pengurangan bahkan pencabutan subsidi, pasar bebas dll.

Hal sama juga terjadi di Pakistan. Diktator Musharraf berhasil ditumbangkan dan diganti dengan pemerintahan demokratis. Hasilnya, pemerintah demokratis itu sama saja dengan diktator Musharraf, yaitu menghamba kepada barat, khususnya AS. Perekonomian Pakistan pun tak juga bangkit. Kehidupan rakyat tetap tidak banyak berubah.

Begitu juga di Bangladesh, pasca tumbangnya penguasa militer Zia ulHaq dahulu. Juga yang terjadi di dunia arab, pasca tumbangnya rezim King Faisal di Irak, Saddam Husein di Irak, raja Fuad di Mesir, Anwar Sadat di Mesir tahun 1981, Shah Reza di Iran, dsb. Semuanya sama, hanya berakhir dengan pergantian rezim tanpa ada perubahan sistem. Hasilnya dapat kita lihat dan rasakan. Dunia Islam termasuk negeri ini tetap saja terpuruk. Rakyatnya banyak yang menderita sementara kekayaannya lebih banyak dikuasai oleh segelintir orang bahkan dirampok oleh atau malah diserahkan kepada kafir barat yang sejatinya adalah musuh umat.

Umat ini sungguh telah berkali-kali terjebak pada proses yang sama. Padahal Rasulullah saw bersabda:

«لاَ يُلْدَغُ الْمُؤْمِنُ مِنْ جُحْرٍ وَاحِدٍ مَرَّتَيْنِ»

Tidak selayaknya seorang mukmin dipatok ular dari lubang yang sama dua kali (HR al-Bukhari dan Muslim)

Mewujudkan Perubahan Hakiki

Pelajaran penting dari semua itu adalah bahwa perubahan dan pergantian rezim saja tidak cukup. Pangkal masalahnya bukanlah sosok Mubarak, Ben Ali, Soeharto, Musharraf, Qaddafi, Ali Abdullah Saleh, Raja Abdullah atau rezim-rezim lain. Pangkal masalahnya adalah sistem sekuler demokrasi dan sistem ekonomi kapitalisme yang diterapkan oleh rezim-rezim itu.

Bahkan perubahan sebatas rezim tanpa disertai dengan perubahan sistem akhirnya kembali mendudukkan “penumpang gelap,” yang menjadi kaki tangan poros imperialis. Rezim diktator jatuh, diganti oleh rezim baru yang masih pro Barat baik Amerika, Inggris atau Prancis. Menerapkan sistem yang sama. Dan persoalan yang samakan muncul berulang kembali.

Saatnya Kita berupaya mewujudkan gelombang perubahan hakiki. Di mana rakyat tidak hanya menuntut sekadar pergantian orang tapi juga sistem. Karena rakyat akhirnya menyadari pergantian orang tidak banyak membawa perubahan berarti, tanpa perubahan sistem.

Untuk itu ada beberapa hal penting harus diwujudkan:

Pertama, sistem alternatif itu harus disiapkan. Sistem itu tidak lain adalah sistem Islam dengan syariahnya yang telah diturunkan oleh Allah SWT, Zat yang Mahatahu, Mahaadil lagi Maha Bijaksana. Allah SWT menyindir kita jika kita benar-benar orang yang yakin :

أَفَحُكْمَ الْجَاهِلِيَّةِ يَبْغُونَ وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ اللَّهِ حُكْمًا لِقَوْمٍ يُوقِنُونَ

Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin? (QS al-Maidah [5]: 50)

Ibarat kita akan membangun bangunan baru, menggantikan bangunan lama yang sudah bobrok, maka desain bangunan baru itu harus dirancang dan digambarkan. Begitu pula mewujudkan perubahan hakiki menuju sistem Islam, maka sistem Islam yang termaktub di dalam al-Quran dan as-Sunnah itu harus digambarkan desainnya. Ini sangat penting, karena tanpa gambar desain itu bisa jadi akan salah bangun dan tak akan terwujud bangunan yang diidamkan. Hizbut Tahrir telah berupaya menggambarkan desain sistem Islam itu baik Sistem Pemerintahannya, Struktur Pemerintahan dan Admistrasi, Sistem Ekonomi Islam, Sistem Pergaulan Islam, Keuangan di Negara Khilafah, Sistem Pidana dan Sanksi, Hukum-hukum Pembuktian, dsb, sehigga siap pakai dan siap bangun.

Kedua, terus dikomunikasikan secara masif kebobrokan bangunan sistem ideologi sekuler kapitalisme dengan sistem politik demokrasi, sistem ekonomi kapitalisme, dsb. Sehingga umat paham bahwa tidak ada gunanya lagi sistem bobrok dan usang itu dipertahankan dan terus diterapkan.

Ketiga, kaum kafir barat dan para pengusung sistem kapitalisme yang bobrok akan berupa dengan segala cara untuk mempertahankan sistem itu. Maka strategi dan cara-cara mereka harus dibongkar kepada umat. Jati diri mereka pun harus ditelanjangi. Sehingga umat tidak akan terpedaya oleh mereka untuk mendukung dipertahankannya sistem bobrok tersebut.

Keempat, desain bangunan sistem Islam harus terus dikomunikasikan dan dipahamkan kepada umat, terutama para ulama, tokoh, militer dan ahlul quwah. Upaya ini harus dilakukan secara massif dan simultan. Sehingga umat termasuk tokoh,ulama dan Ahlul Quwah paham akan kebaikan sistem Islam. Mereka paham bahwa penerapan sistem Islam dengan syariahnya didalam bingkai khilafah merupakan konsekuensi keimanan.

Saat ini yang harus kita lakukan adalah ambil bagian bergabung dalam perjuangan ini. Kita pun harus mengintensifkan proses menjelaskan dan memahamkan sistem Islam kepada segenap komponen umat, terutama para tokoh, ulama dan ahlul quwah termasuk militer. Revolusi Tunisia, Mesir memberi pelajaran berharga bahwa jika umat telah menghendaki dan mendesak suatu perubahan maka tidak akan terbendung. Sebagian tokoh dan militer pun pada akhirnya akan berpihak kepada umat karena mereka adalah anak-anak umat ini dan tentu tidak akan bisa berhadapan dengan umat yang melahirkan dan mengasuh mereka.

Wahai Kaum Muslim

Perubahan rezim saja tidak cukup, tetapi harus disertai perubahan sistem. Sistem ideologi kapitalisme dengan sistem politik demokrasi dan sistem ekonominya telah sama-sama kita lihat dan rasakan kegagalannya dan penuh kebobrokan. Saatnya kita ganti dengan sistem Islam yang berasal Allah yang Mahaadil dan Bijaksana. Desain sistem Islam itu telah dirancang dan digambarkan begitu jelas, juga telah dan terus dikomunikasikan kepada Anda. Saatnya kita tentukan sikap dan kita penuhi seruan Allah dan Rasulnya:

{يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اسْتَجِيبُوا لِلَّهِ وَلِلرَّسُولِ إِذَا دَعَاكُمْ لِمَا يُحْيِيكُمْ}

Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kamu (QS al-Anfal [8]: 24)

WalLâh a’lam bi ash-shawâb.


Bagaimana tanggapan anda ?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: