Oleh: Refa | 13 Agustus 2011

Neo Imperialisme Merampas Kemerdekaan Indonesia


       Bulan Agustus merupakan bulan yang bersejarah bagi negeri ini. Tidak lain karena pada bulan ini, 66 (enam puluh enam) tahun silam proklamasi kemerdekaan dibacakan. Proklamasi pun menjadi penanda, bahwa negeri ini lepas dari penjajahan.

        Penjajahan memang sebuah pengalaman yang menyedihkan. Sebagai manusia kita seakan tidak memilki persamaan dengan para penjajah. Bagaimana tidak, sebagai manusia penghuni pertiwi ini mendapat perlakuan yang hina dina dari penjajah. Tanah-tanah dan kekayaan alam yang dirampas, tenaga yang dikuras tanpa bayaran, dibiarkan sakit hingga meregang nyawa, keperawanan anak gadis yang direnggut merupakan gambaran betapa biadabnya penjajahan.

        Tentu saja kemerdekaan menjadi cita-cita dari segenap rakyat kita pada masa itu. Hingga akhirnya atas rahmat dari Allah Swt Swt, negeri ini memproklamirkan kemerdekaannya. Perlahan kemudian negeri ini dibangun untuk mengantarkan penghuninya hidup sejahtera, aman, dan beradab.

        Sejak 1945 atau sejak proklamasi kemerdekaan, kini usia negara Indonesia sebentar lagi menginjak 66 tahun. Sebuah usia yang cukup tua bagi sebuah negara. Lantas, bagaimana kondisi negeri kita sekarang? Sudahkan cita-cita untuk mensejahterakan rakyat, memberi rasa aman dan menciptakan manusia beradab terwujud?

Indonesia Hari Ini

        Zamrud katulistiwa, demikian julukan bagi negeri kita. Kata orang, tongkat dan batu pun bisa tumbuh jadi tanaman. Negeri ini mengandung barang tambang mineral dan minyak bumi, serta gas yang melimpah dalam perut buminya. Negeri ini memiliki hutan-hutan yang hijau di atasnya dan hamparan laut dengan potensinya. Benar-benar anugrah yang tiada tara dari Allah Swt Swt.

        Logikanya, kekayaan melimpah itu mengantarkan rakyat negeri ini sejahtera. Kesejahteraan layaknya menghadirkan rasa aman, karena masing-masing mendapatkan hidup layak. Kekayaan alam itu pun dapat digunakan untuk menyelenggarakan pendidikan dan melahirkan manusia Indonesia yang beradab.

        Namun apa kabar Indonesia hari ini? sebagai warga negara yang menghuni negeri ini kita dapat merasakan dan menyaksikan apa yang dialami oleh negeri kita. Dari waktu ke waktu kok kita merasa harga barang kebutuhan pokok terus melonjak naik. Peminta-minta dijalanan semakin banyak, anak jalanan juga demikian. Di media-media, sering juga kita dipertontonkan potret kemiskinan yang memilukan hati.

        Data BPS (2010) menyebutkan bahwa dengan standar biaya hidup 7.000/hari, jumlah rakyat miskin di Indonesia mencapai sekitar 31,02 juta jiwa. Standar BPS dengan kata lain menyebutkan bahwa orang miskin adalah yang hanya mampu makan 1 kali sehari. Di sisi lain jumlah penerima Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas)—dulu dinamakan Asuransi Kesehatan bagi Rakyat Miskin (Askeskin)— sebanyak 76,4 juta jiwa pada tahun ini. Lalu jumlah rumah tangga miskin (RTS) yang akan menerima raskin yakni 17,5 juta kepala keluarga (KK) atau sekitar 77 juta jiwa. Angka ini hampir sama dengan perkiraan Bank Dunia bahwa jumlah rakyat miskin di Indonesia mencapai sekitar 100 juta jiwa dengan standar penghasilan 2 dolar AS per hari (mediaumat.com, 5/4/2011).

        Mengapa bisa terjadi demikian? Kemana manfaat dari anugerah Allah Swt yang melimpah di bumi Indonesia? Masya Allah, ternyata banyak dari anugerah Allah Swt itu justru dirampas oleh bangsa lain yang bukan haknya. Tercatat sejak 1969, 80% kekayaan alam dan aset Indonesia dikuasai asing dan 70% sumber daya alam dan aset penting dikuasai Amerika (detik.com, 2009). Di ruang pertambangan, 90% perusahaan asing duduk menguasi sektor migas (data serikat pekerja pertamina, 2008).

        Di sektor tambang mineral juga tidak berbeda, asing menguasai lebih banyak. Wilayah Ertsberg dan Grasberg di Papua yang dikelola PT Freeport merupakan daerah pertambangan dengan cadangan emas terbesar di dunia (ketiga terbesar untuk tembaga). Tercatat, cadangan emas yang dimiliki kawasan ini sekitar 40 juta ons emas, 25 milyar pon tembaga, dan 70 juta ons perak. Nilai secara keseluruhan mencapai sekitar 40 milyar dolar AS (Marwan Batubara, 2010). Apakah realitas ini adalah tanda negara yang merdeka? Atau negara yang terjajah?

Penjajahan Gaya Baru Merampas Kemerdekaan

        Tidak habis pikir memang, anugerah Allah Swt yang melimpah justru lari ke tangan asing. Anugrah Allah Swt yang menjadi hak dari rakyat Indonesia, malah dirampas oleh pihak asing dari tangan kita. Bahkan tidak saja kekayaan alam kita, tetapi moral, mental sumber daya manusia kita juga dirampas.

        Bukankah perampasan oleh negara terhadap negara lain juga sebuah penjajahan? Inilah yang disebut oleh Vandana Shiva dengan “Kolonialisme lama hanya merampas tanah, sedangkan Kolonialisme baru merampas seluruh kehidupan”.

        Sebenarnya penjajahan (kembali) atas Indonesia sudah terlihat ketika Indonesia akan merdeka. Presiden AS, Tuan Nixxon pernah mengatakan bahwa Indonesia adalah hadiah terbesar di Asia Tenggara (lihat David Ransom, Mafia Barkeley dan Pembunuhan Massal di Indonesia, 2006). Presiden Lyndon Johnson menyatakan kekayaan alam Indonesia yang melimpah sebagai alasan Amerika mendekati dan “membantu” Indonesia (Johnson Library: 1967). Secara de jure kita merdeka, tatapi de facto dengan berbagai bukti yang ada kita belumlah bisa disebut merdeka. Indonesia lepas dari kandang buaya masuk kandang macan!

        Penjajahan gaya baru (neokolonialisme) berbeda dengan penjajahan klasik (kolonialisme). Penjajahan gaya baru (neokolonialisme) tidak mengirimkan pasukan bersenjata pada negara yang dijajah. Namun melalui lembaga-lembaga semacam IMF, Bank Dunia, ADB (Asian Development Bank), dan lainnya pihak asing menancapkan kukunya dan menghisap negara-negara dunia ketiga, termasuk Indonesia. Kebijakan seperti privatisasi, pencabutan subsidi menjadi resep yang dijejalkan oleh penjajah ke negara terjajah.

        Penjajahan gaya baru (neokolonialisme) juga menunggangi elit di pemerintahan dan mempengaruhi kebijakan negara-negara yang dijajahnya. Sehingga tidak heran kemudian jika anggota DPR Eva Kusuma mengungkapkan, selama 12 tahun pasca reformasi ada 76 undang-undang yang draftnya dari asing (Tempointeraktif.com, 20/8/2010).

        RUU BPJS (Badan Penyelenggara Jaminan Sosial) yang masih digodok oleh DPR dan Pemerintah pun ditengarai merupakan desain dari pihak asing. UU Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN) dan RUU Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) ini dirancang dan didanai oleh Asian Development Bank (ADB) dan World Bank memalui program Financial Govemance and Sosial Security Reform (FGSSR) sebesar USD 250 juta dan merupakan bagian dari strategi lembaga keuangan Asing dalam rangka memobilisasi dana investasi (mediaumat.com, 13/7/2011).

        Ketika negeri ini didominasi oleh asing, maka terampaslah sudah kemerdekaan kita. Menjadi angan-angan sajalah cita-cita negara untuk mensejaterakan rakyat, menciptakan rasa aman, dan mencetak manusia yang beradab. Mustahil penjajah akan merawat rakyat dengan kasih sayang sebagaimana orang tua memelihara anak-anaknya.

Pertanyaan saya kemudian:

  • Di mana titik lemah yang menjadi sebab fundamental pintu masuknya neoimperialisme di negeri kita?
  • Bagaimana kekayaan alam dan sumber daya ekonomi Indonesia dirampas dengan cara legal dan ilegal?
  • Apa saja yang menjadi mata rantai penjajahan yang telah memasung kemerdekaan Indonesia selama 66 tahun dan bagaimana langkah yang harus ditempuh untuk memutus mata rantai penjajahan tersebut?
Iklan

Responses

  1. […] akan menyebabkan penyakit berdampak tinggi. No related content found.Mouse here for Related LinksNeo Imperialisme Merampas Kemerdekaan IndonesiaVN:F [1.9.13_1145]please wait…Rating: 5.0/5 (5 votes cast)VN:F [1.9.13_1145]Rating: +5 (from 5 […]

    Suka

  2. tulisan yang menarik, thanks.

    Suka


Bagaimana tanggapan anda ?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: