Oleh: Refa | 3 Februari 2012

Kenali Polihidramnion atau Kembar Air Pada Kandungan Anda


Sebagaimana kita yakini, bahwa hidup dan mati adalah atas kehendak Allah. Sehingga apapun ketetapan Allah hendaklah kita menerima dengan ikhlas. Meski demikian gak ada salahnya dong kalau saya masih penasaran (karena belum puas dengan penjelasan dokter specialis bedah dan kandungan yang menangani persalinan saya). Setelah kasak-kusuk di internet, akhirnya ketemu juga beberapa penjelasan mengenai masalah pada kehamilan anak saya yang ketiga kemarin. Ya Polyhidramnion atau disingkat hidramnion, demikian yang saya ingat dari penjelasan dokter saya kemarin. Dan inilah penjelasan yang saya dapat di internet.

Polyhidramnion atau disingkat hidramnion saja secara bahasa didefinisikan sebagai suatu keadaan dimana jumlah air ketuban melebihi 2 liter. Untuk keadaan normal air ketuban berjumlah sebanyak antara 1-2 liter, sedangkan kasus hidramnion melebihi batas dari 2 liter yaitu antara 4-5 liter. Sedangkan secara klinik adalah penumpukan cairan ketuban yang berlebihan sehingga menimbulkan rasa tidak nyaman pada pasien. Sedangkan secara USG jika Amniotic Fluid Index (AFI)>20 atau lebih.

Kasus hidramnion berkisar 0.5 – 1 % dari kehamilan. Umumnya terjadi pada Multigravida (kehamilan yang kedua dst) lebih sering daripada primigravida (hamil pertama).  

Efek yang ditimbulkan akibat hidramnion :

  1. Perut akan lebih besar dari kehamilan normal. persis seperti yang saya alami, terutama mulai terasa memasuki usia kehamilan 6 bulan
  2. Adanya tekanan pada diafragma, akibatnya ibu mengalami sesak nafas. katanya berbahaya bila sang ibu menderita asma seperti saya
  3. Sering Berdebar-debar,
  4. Bengkak2 pada kaki
  5. Nyeri pada perut akibat tegangnya uterus, mual dan muntah.
  6. Perut nampak menegang dan mengkilap bahkan bisa menyebabkan retak-retak pada kulit perut
  7. Akan mengalami kesulitan dalam pemeriksaan (bagian2 janin susah diraba dari luar) karena terlalu banyaknya cairan, tinggi rahim melebihi usia kehamilan
  8. Janin akan semakin bebas bergerak, yang akan menyebabkan kesalahan letak janin
  9. Resiko tinggi perdarahan pada saat persalinan
  10. Adanya tekanan yang kuat, dapat menyebabkan kontraksi sebelum waktunya seperti yang saya alami
  11. Adanya resiko kelainan/cacat pada janin
  12. Kemungkinan lahir melalui caesar besar
  13. Komplikasi yang bisa tejadi adalah: Pre-eklampsia (tekanan darah yang tinggi dan kelebihan kadar protein dalam urin), KPD (Ketuban Pecah Dini), Persalinan kurang bulan, perdarahan pra-persalinan.

Beberapa penyebabnya:

  • Adanya kelainan pada bayi seperti anencefali (tidak ada batok kepala), spina bifida (sumbing tulang belakang), Sumbatan saluran makanan bayi, tumor dileher bayi dll
  • Kelainan plasenta: adanya tumor pada plasenta
  • Produksi urine janin yg berlebihan
  • Kehamilan kembar
  • Penyakit ibu seperti: Diabetes, kelainan ginjal atau jantung.

Berdasarkan waktu terjadinya hydramnion terbagi 2 yaitu:

  • Hidramnion akut / mendadak: dimana penambahan air ketuban terjadi dalam waktu yg cepat, hanya dalam beberapa hari. Biasanya terjadi pada kehamilan muda pada bulan ke 4 atau 5. Yang ini jarang terjadi.
  • Hidramnion chronis (menahun) : penambahan air ketuban perlahan- lahan, berangsur- angsur. Kejadian berlangsung lebih lama dari 14 hari Keluhan tidak terlalu berat, dan tidak mendadak, Ini bentuk yang paling umum.

Tindakan yang harus dilakukan adalah melakukan pemeriksaan penunjang seperti USG untuk menilai AFI, jumlah bayi, letak bayi dan deteksi kelainan kongenital bayi.

Penanggulangan

Berdasarkan berat ringannya penyakit. Untuk yang ringan hanya dilakukan bedrest (istirahat yang cukup), dan diharapkan kelebihan air ketuban akan segera menghilang seiring dengan bertambahnya usia kehamilan.

Untuk yang berat ada 3 prinsip utama : 1. Hilangkan gejala 2. Cari penyebab 3. Atasi/hindari komplikasi. Penataan berupa bedrest, diet rendah garam, serta obati penyakit dasar jika ada seperti diabetes atau pre-eklampsia. Cari kelainan bawaan janin. Jika ada kelainan bawaan biasanya dilakukan terminasi kehamilan (di Indonesia tindakan seperti ini nggak boleh). Sedangkan jika bayinya tanpa cacat bawaan selanjutnya dilakukan kontrol terhadap respon pengobatan. Jika respon baik lanjutkan kehamilan dan obati komplikasi. Tetapi jika tidak respon dan ada stress janin, hamil kurang dai 37 minggu dilakukan penyedotan cairan (amniosentesis), sedangkan jika hamil sudah 38 mingguan dilakukan amniosentesis dan induksi persalinan (terminasi).

(Misnawati, ibu rumah tangga)


Responses

  1. Thank you a lot for sharing this with all of us you actually recognize
    what you are speaking about! Bookmarked. Kindly also discuss with my site =).
    We will have a hyperlink change arrangement among us

    Suka

  2. saya pernah hamil polihidramion selama 8 bulan saya melahihkan anak saya lahir dengan lubang hidung cuma satu dan bibir sumbing,tapi bayi meninggal, saya mau tanya jika hamil lagi tidak akan seperti ini lagi kan

    Suka


Bagaimana tanggapan anda ?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: