Oleh: Refa | 13 Mei 2013

PUISI AUFA DI MUKTAMAR KHILAFAH BANJARMASIN 2013


Bagian 1: MASA LALU YANG INDAH.

Sampai kemarin, semuanya baik-baik saja.
Setiap pagi ayah pergi bekerja. Sedangkan ibu membacakan Al-Quran, dan menceritakan kisah-kisah pahlawan Islam.

Sampai kemarin, semuanya baik-baik saja.
Para petani menggemburkan sawahnya, menjaga ketahanan pangan negara kami, menjamin tidak ada yang kelaparan di tanah ini.

Sampai kemarin, semuanya baik-baik saja.
Para ulama mengajarkan ilmu, dan menulis kitab untuk diwariskan pada generasi berikutnya.

Sampai kemarin, semuanya baik-baik saja.
Para ilmuwan di negara ini, senantiasa menyumbangkan hasil penemuannya untuk perkembangan peradaban kami.

Sampai kemarin, semuanya baik-baik saja.
Para arsitek di negara ini, membangun masjid-masjid dengan kubah yang berkilauan, dengan lantai yang bekerlipan, dengan ornamen-ornamen yang menawan, dengan sistem akustik yang belum pernah ditemukan.

Sampai kemarin, semuanya baik-baik saja.
Aku dan kawan-kawanku, selalu berlarian riang setiap berangkat ke sekolah.
Kami, selalu tertawa girang saat bermain dokter-dokteran, dan anak lelaki, selalu bersemangat saat bermain perang-perangan.

Sampai kemarin, semuanya baik-baik saja.
Gambar
Bagian 2: PENJAJAHAN OLEH KAPITALISME.

Namun, hari ini, semuanya berubah.
Sekawanan penjahat datang merenggut kebahagiaan kami.

Aku tidak bisa lagi tertawa riang bersama teman-temanku.
Setiap hari, kami hanya menangis.

Setiap hari ayah bekerja semakin keras, sampai tidak punya waktu lagi untuk bermain denganku.

Ibu bilang, ayah terpaksa meninggalkanku demi mencari sesuap nasi. Tapi apakah hidup memang harus sesulit ini?

Padahal, dulu tidak begini.

***

Aku jadi tidak mengerti.

Kenapa sekarang yang aku lihat hanya penderitaan?

Kenapa di mana-mana yang kudengar hanya tangisan?

Kenapa di mana-mana, yang aku rasakan hanya kehancuran?

Kenapa? Kenapa begini?

Apakah hidup memang harus sesulit ini?

***

Kenapa aku harus kehilangan kasih sayang ibu?

Kenapa ibu harus bekerja seharian, dan menitipkanku pada pengasuh?

Kenapa ibu lebih menyayangi pekerjaannya daripada aku?

Setiap kutanya, ibu selalu menjawab: ‘Nak, ibu bekerja untuk kebaikanmu juga. Untuk membelikan mainan dan pakaian yang bagus’

Tidak, Bu.
Aku tidak mau pakaian dan mainan yang bagus. Yang aku mau, ibu ada di sini, menemaniku bermain, dan mendidikku menjadi anak sholehah.

***

Apakah hidup harus sesulit ini?

Dulu, aku dengar, di Palestina, seorang ayah harus berkeliling kota seharian hanya untuk mencari air bersih buat minum keluarganya. Tapi semua sumber air telah dikotori dengan racun oleh Israel.

Di sana, anak-anak harus kehilangan ayah dan ibunya. Kasihan sekali mereka. Siapa yang menjaga dan menyayangi mereka jika ayah ibunya telah tiada?

Di sana, anak-anak ditembaki di pangkuan ayahnya.

Mayat-mayat bergelimpangan.

Darah berhamburan.

Potongan tangan, kaki, kepala, berserakan.

Apakah hidup harus seperti ini?

***

Sekarang.
Aku takut tumbuh besar menjadi remaja.

Bagaimana aku menjalani masa remajaku nanti? Sekarang saja, banyak remaja yang sudah tidak gadis lagi. Bahkan sudah banyak yang menggugurkan kandungan.

Sekarang, banyak remaja yang kecanduan obat terlarang.
Aku takut, bagaimana jika aku tumbuh jadi remaja nanti.

Apakah aku akan terjerumus seperti mereka?

***

Bagian 3: MENANTI BISYARAH.

Apakah aku sanggup menghadapi hidup?
Dunia semakin kejam. Aku takut. Aku takut. Aku takut….!

Sekarang aku terkurung di sini.
Dalam kehidupan yang serba rusak ini.
Aku terkurung di sini.
Dalam masa depan yang tidak jelas ini.
Aku terkurung di sini.
Aku takut.
Di sini gelap.
Tidak ada cahaya.
Bagaimana aku menghadapi masa depanku?
Bagaimana?
Aku takut…
Bagaimana jika mereka menyiksaku?
Bagaimana jika mereka membunuhku?
Bagaimana jika penjajah itu datang ke sini, dan merusak segalanya.

Aku takut….
Tidak adakah yang mendengar teriakanku?
Aku takut…

Tolong aku.
Selamatkan aku…

Aku takut….

Siapa yang mendengarku?
Apakah tidak ada lagi orang beriman di bumi ini?

Tolong aku…
Dimana kalian wahai orang-orang beriman?

Tolong…
Di sini gelap…
Aku takut….

Tidak adakah orang beriman di sini?
Tidak adakah yang peduli pada deritaku?
Tolong….

(Aufa dalam foto mengenakan jilbab hijau krem, adalah siswi klas V SDIT INSANTAMA BANJARBARU KALSEL)


Bagaimana tanggapan anda ?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: