Oleh: Refa | 26 Agustus 2013

Mengenang Pak Susanto


SUSANTO. begitulah namanya. Saya biasa memanggilnya Pak Susanto karena usianya lebih tua 6 tahun dibanding saya. Kadang-kadang saya memanggilnya Ustad Susanto. Panggilan Ustad tentu saja bukan panggilan untuk mengolok-olok. Itu adalah panggilan untuk penghormatan sesama kami yang mengikrarkan diri sebagai para aktivis dakwah. Meskipun beliau hanya seorang penjual mie ayam, tapi beliau di sela-sela kesibukannya itu masih mampu menyediakan waktu untuk berdakwah. Bahkan kadang yang membuat saya iri dan malu, ternyata beliau sering rela tidak berjualan demi amanah dakwah.

Saya mengenalnya kurang lebih 8 tahun yang lalu melalui sebuah forum keagamaan, semacam tabligh akbar di sebuah masjid. Sejak perkenalan itu kami mulai lebih sering ketemu, setidaknya setiap ada kegiatan ke-Islam-an. Di luar waktu itu kami jarang ketemu. jarang bukan berarti nggak pernah. Kadang kadang kami ketemu hanya berpapasan di jalan, ketemu dalam acara undangan pernikahan, atau undangan tasmiyah seorang teman. Atau ketemu dalam kesempatan kesempatan yang tak terduga dan tak disengaja lainnya, maklumlah kami tinggal satu kota hanya beda kecamatan saja. Namun menyengaja silaturahim ke rumahnya jauh lebih jarang lagi saya lakukan. Masih bisa dihitung dengan jari tangan. Itupun biasanya hanya pada saat momen hari raya saya baru bisa silaturahim rumahnya.

Pak Susanto yang saya kenal adalah sosok seorang yang sederhana, bersahaja, amanah, tanggungjawab, disiplin dan ramah. Beliau juga tipe orang yang ulet, rajin, rendah diri (low profile) juga penyabar. Penilaian ini tentu bukan tanpa dasar. Itulah penilaian saya terhadap sosok beliau selama ini. Kadang untuk bisa menilai seseorang kita cukup dengan mengamati keseharian beliau, bagaimana bentuk fisiknya, pakaiannya. Bisa juga dilihat dari kondisi keluarganya, mulai dari keadaan rumahnya, kendaraannya, aksesoris apa saja yang melekat di tubuhnya, taraf pendidikannya, dsb.

Tapi bagi saya itu belum cukup . Itu hanya mengambarkan sebagian atau nampak luarnya. Untuk itu perlu pengamatan lebih lanjut untuk mengetahui karakter beliau. Pernah pada suatu ketika kita mengikuti i’tikaf bersama di sebuah masjid. Di situ lumayan banyak kesempatan saya untuk ngobrol dengan beliau. Dan dari situlah saya semakin mengenal karakter beliau.

Penilaian saya ini ternyata tidak jauh berbeda dengan penilaian teman teman saya yang lain yang kebetulan juga mengenal beliau. Pendeknya kami lebih banyak menjumpai sifat-sifat lebih/baik pada diri beliau. Kalaupun harus menyebutkan apakah ada sifatnya yang dinilai kurang ? Kalau menurut saya ada sih, yakni karena beliau kurang tepat waktu. Dalam setiap undangan kegiatan beliau hampir selalu datang lebih awal (kurang) dari waktu yang ditentukan. Lebih baik datang lebih awal daripada terlambat, begitulah tuturnya yang masih saya ingat.

Kenangan lain yang selalu saya ingat dari Pak Susanto adalah testimoni beliau dalam sebuah forum muhasabah untuk para aktivis dakwah. Secara mengejutkan beliau menyebut nama saya, beliau  mengatakan bahwa merasa tercerahkan setelah pernah mendapatkan materi dalam kegiatan Tsaqafah Center yang kebetulan Saya yang mengisi. Ungkapan polos itu tentu tidak lantas membuat saya besar kepala, dan ujub. Naudzubillahi min dalika. Yang pasti saya terharu dan bersyukur, materi saya bisa dipahami. Tiada daya dan kekuatan kecuali dari Allah. Allah SWT lah yang berkuasa membuka hati dan memberikan hidayah pada seseorang. Sementara diri ini hanyalah hamba, hanya perantara atau wasilah. Tidak layak untuk sombong dan karena memang tidak ada yang layak untuk disombongkan.

Selanjutnay setiap kami mengadakan kegiatan kegiatan keagamaan, kami mengamanahi Pak Susanto untuk membantu panitia teknis. Kami memberikan amanah tentu saja sesuai dengan kemampuan yang dimilikinya. Beliau secara jujur mengaku tidak sanggup kalau harus tampil sebagai narasumber, moderator, atau hanya sekedar pembawa acara pun. kami pun memahami akan hal itu. Mengingat latar belakang pendidikannya, lingkungan pergaulannya yang lebih banyak menghadapi kalangan menengah ke bawah dan juga tipe pekerjaannya yang tidak membutuhkan banyak bicara sudah cukup menjadi alasan. Itulah sebabnya kenapa beliau memang jarang berbicara secara vokal di forum-forum terbuka. beliau lebih suka berdiskusi dalam forum kecil, dialog empat mata. karena itulah beliau memilih dan merasa enjoy dengan posisinya di panitia teknis. Melalui tangan beliau dengan dibantu tim teknis yang lain, acara acar yang kita selenggarakan bisa berjalan lancar. Dari urusan perlengkapan, konsumsi, beliau selalu terlibat dan terlihat cekatan. Tidak pernah ada yang mengecewakan. Itulah keahlian Pak Susanto.

Tetapi ……Manusia hanya bisa berencana, sedangkan Allah lah yang berkuasa. Kami, Saya dan teman teman di sini berencana mengadakan Liqa Syawal/Halal bi halal. Tentu saja sudah merencanakan untuk melibatkan Pak Susanto dalam panitia teknis. Tapi siapa yang mengira kalau obrolan saya dengan pak Susanto beberapa hari yang lalu, adalah obrolah Saya yang terakhir dengan Beliau. Ya ….Saya tidak akan bisa lagi berdialog dengan beliau karena Allah telah memanggilnya. Beliau telah tiada dalam usianya yang baru 46 tahun. Beliau meninggalkan 3 orang putri yang masih kecil kecil.

Berita kepergian beliau untuk selama-lamanya ini sungguh membuat Saya terkejut. Tak mengira akan secepat itu. Beliau memang tidak pernah menceritakan kalau memiliki penyakit Diabetes. Selasa 20 Agustus 2013 pak Susanto tiada. Beberapa hari sebelumnya beliau sempat mengirimkan sms kepada saya yang bunyinya seperti ini…”Afwan ustad aku tidak bisa hadir acara malam ini, teggorokan dan leherku sakit bengkak, karena sakit gigi sampai tidak bisa noleh. Ini mau dibawa ke rumah sakit, Tolong mintakan doa pada teman-teman yang lain agar Aku cepat sembuh”

Menyesal juga, Entah kenapa waktu itu aku tidak segara membalas SMS nya, Baru keesokan paginya saya mengirim sms balasan, mendoakan agar sembuh dan menanyakan perkembangan kondisinya dan berjanji akan menjenguknya. Hari itu, Sabtu 17  Agustus 2013 ketika bangsa ini tengah merayakan kemerdekaannya, saya meluangkan waktu untuk menjenguk Pak susanto. Di Rumah Sakit kami sempat ngobrol meskipun tidak terlalu jelas apa yang diucapkan. Bukan hanya tidak bisa noleh, beliau juga tidak bisa berbicara dan makan, hingga terpaksa beliau harus diinfus. Untuk berkomunikasi sesekali beliau menggunakan isarat tangannya. Beliau ingin mengisahkan tidurnya yang gelisah selama di Rumah sakit, mimpi yang aneh aneh. Karena kurang tanggap saya katakan saja bahwa mimpi itu hal yang wajar dialami kalau orang lagi tidur, entah itu mimpi indah atau mimpi buruk. saya pun mengalihkan ke pembicaraan lain. Baru sekarang, setelah beliau tiada saya kadang berpikir, barangkali itu isyarat dari orang yang akan meninggal.

Dua hari kemudian saya berencana mau mengunjunginya lagi di RS setelah mendengar kabar dari kawan lainnya yang juga baru pulang menjenguknya, yang mengabarkan sakitnya tambah parah. Karena sudah malam saya merencanakan esok paginya saja baru menjenguk. Hingga akhirnya sebelum subuh, malam itu juga mendengar kabar bahwa pak Susanto sudah dipanggil menghadap ke hadirat Allah SWT sebelum saya sempat menjenguknya lagi.

Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un. Sesungguhnya kita ini milik Allah dan sesungguhnya kepada Allah lah kita dikembalikan.

Selamat jalan pak Susanto. Selamat jalan sahabatku pejuang syariat dan khilafah. Mungkin bagi orang lain pak Susanto hanyalah manusia biasa, hanyalah seorang penjual Mie Ayam. Tapi Bagi saya pak Susanto adalah sosok yang patut menjadi teladan, sangat menginspirasi.

 Kini genap satu minggu kepergianmu. Masih terngiang nasehat-nasehatmu, masih teringat pertanyaan-pertanyaanmu yang polos dalam halaqah usbuiyah yang karena saya belum bisa menjawab, mengharuskan Saya untuk belajar lagi, membuka kitab kitab fiqih sesampai di rumah pulang dari mengisi halaqah agar bisa memberi jawaban pada liqa berikutnya.

Masih terbayang ketika pagi-pagi buta, selepas subuh Engkau sudah sampai di rumah saya berhujan hujan untuk sebuah amanah mengambil perlengkapan berupa panji panji Islam yang akan dipakai pagi itu juga untuk memimpin kafilah yang akan menghadiri MUKTAMAR KHILAFAH DI BANJARMASIN. Ya saya masih ingat betul hari itu adalah Hari kamis tanggal 9 Mei 2013.

Allahumaghfirlahu warhamhu waafini wa’fuanhu. Amin yaa rabbal ‘alamin

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.


Responses

  1. artikel yang bermanfaat sob,,dengan perjuangannya seperti itu sangat berguna bagi mahkluk allah

    Suka


Bagaimana tanggapan anda ?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: