Oleh: Refa | 24 November 2015

Pertanyaan Pertanyaan Ituh…


Bagi kebanyakan orang, pertanyaan pertanyaan berikut ini mungkin dianggap biasa saja, maksud saya wajar saja terlontar dari mulut siapa saja. Tapi ndak tahu kenapa kok menjadi tidak biasa bagi saya. Ada pertanyaan yang cukup membuat saya kaget mendengarnya. Ada yang saya sampai speechless tak bisa berkata kata untuk sesaat sebelum akhirnya memutuskan menjawab. Ada yang saya jawab dengan muter muter. Ada yang saya minta waktu untuk mencari jawabannya. Ada yang terus terang saya jawab nggak tahu.

Foto0397

Misalnya saja, Nia anak saya yang bontot seiring bertambahnya usia mulai sering nanya macam-macam ( saat ini baru 7 thn dan masih klas 1 ES DE). Nah beberapa waktu yang lalu tiba tiba saja Dia bertanya begini, “Abi, di syurga ada prosotan dan ayunan nggak?” “Kenapa nanya gitu ?  kata saya. “Tadi di sekolah ustadzah menceritakan syurga” katanya. “Ooh  ada” kata saya menjawab asal. “Kalau Mall ada nggak ?” tanyanya lagi. Maksudnya Supermall tempat yang kini mulai diminati buat jalan-jalan. “Ya adalah” kata saya lagi. “Kalau es krim ada lah ?” tanyanya lagi semakin penasaran. “Ada. semua yang kita minta ada nanti di syurga” jawab saya mulai gelisah. “Asyik Nia sudah nggak sabar mau melihat syurga dan main di sana”. GUBRAKKK !!!!

“Begini Nia” Saya mulai mencoba menjelaskan sebisanya. Syurga itu tempat balasan untuk orang-orang yang berbuat baik di dunia dan juga taat kepada Allah SWT. Tapi orang nggak bisa ke syurga sebelum dia meninggal dunia.

“Wah berarti masih lama dong Nia ke syurganya, kan Nia masih kecil” katanya. “Bisa saja anak kecil meninggal duluan” kata saya. “Tapi siapa yang meninggal duluan itu kita nggak tahu. Itu rahasia Allah. Nah yang harus kita siapkan itu adalah apakah kita sudah berbuat baik di dunia dan taat kepada Allah agar kita nanti bisa masuk syurga.” Terdiam dia. Namun kemudian mulai celoteh lagi, “Nia kan sudah sholat dan mengaji berarti nanti dibolehin masuk syurga kan sama Allah?”

“Amien. Iya in syaa Allah. tapi berbuat baik dan taat bukan cuma itu. Nia harus berbakti pada Abi Umi, berbuat baik kepada teman dan ustad/ustadzah dan semua orang muslim.kalau Nia semakin besar nanti kewajibannya semakin banyak. Nia harus puasa, berinfak, berdakwah dan masih banyak lagi. Nama Nia kan Haniyya Sholehah. Nama itu adalah doa Abi dan Umi agar Nia menjadi anak yang Sholehah dan selalu bergembira.”

Nah itu pertanyaan spontan dari Nia.  Yang mungkin sangat sederhana dan biasa saja namun bagi saya sangat SANGAT LUAR BIASA.

Di kesempatan yang lain dia pernah bertanya begini, “Bi kenapa aurat ikhwan dan akhwat berbeda?” “Berbeda bagaimana ?” saya balik bertanya sengaja ingin memperjelas maksud pertanyaannya. “Kata ustad (gurunya di sekolah) kalau ikhwan auratnya pusatnya saja (padahal maksudnya dari pusat sampai lutut) tapi kalau akhwat seluruh tubuh kecuali wajah dan telapak tangan. “

Umiiiiii !!!” spontan saya memanggil istri saya. Ini yang saya maksud kadang pertanyaan itu sederhana tapi bagaimana saya bisa menjelaskan agar bisa dipahami anak-anak seusia Nia. Nah biasanya kalau pas ada istri saya langsung istri saya yang saya minta menjelaskan. He he ngeles. Dan istri saya memang ahlinya kalau menjelaskan kepada anak-anak.

Pernah juga saya menjawab asal-asalan ketika pertanyaan Nia saya anggap nggak penting. Tapi malah kena batunya juga saya ketika dia nggak puas dengan jawaban saya.

Waktu itu kita lagi di jalan naik sepeda motor berdua. Nia berdiri di depan. Kita berdua pakai helm. Tiba-tiba dari belakang melintas polisi membonceng anaknya di belakang. Dan parahnya anaknya tidak pakai helm. Eee spontan Nia nyeletuk, “Bi kenapa kalau Pak polisi anaknya nggak papa nggak pakai helm”. Nah karena saya males jawab (di sini saya merasa salah) saya bilang, “Pak polisi buru-buru kali takut anaknya terlambat sekolah”. Sampai sekarang saya nyesel kenapa dulu menjawab begitu. Karena kadang sekarang anak saya susah disuruh pakai helm. Alasan helmnya sudah kekecilan lah bikin sakit kepala, alasan kan dekat aja ke sekolah atau kan nggak ada pak polisi yang merazia.

Nah jadi hikmahnya adalah jawablah pertanyaan anak dengan penjelasan yang benar usahakan dengan bahasa yang mudah dia pahami.

Lain anak lain lagi pertanyaan orang dewasa. Ini pertanyaan manusia dewasa yang sering saya kerepotan menjawab.

Kalau pertanyaan “kapan nikah sih sudah lewat, he he”. Ini lebih berat dari itu. Dan benar-benar jleb di hati saya. rasanya seperti dada saya dipukul dengan palunya si THOR.

Alkisah, cie..pembaca mulai serius. Saya diundang seorang teman acaranya selamatan pindahan rumah. Gak ada yang istimewa sih, cuma baca doa selamat kemudian makan-makan gitu. Biasa lah habis makan nggak pada langsung pulang. Ngobrol-ngobrol gitu sih. malu kan kalau esempe selesai makan pulang. Nah jadi singkatnya dalam obrolan itu pada ngomongin si A ngambil rumah di mana, si B di mana. Rata-rata pada menjawab dengan mudah dan pede secara memiliki rumah sendiri adalah  cerminan status sosial. Apalagi bisa membeli rumah di kawasan elit.

Nah  giliran pertanyaan ke saya, “Kalau sampeyan mengambil rumah di mana Mas?”

Tidak ada yang salah dengan pertanyaannya, dan menanyanya juga dengan nada lembut. Tapi itu sudah cukup membuat tenggorokan saya tercekat, lidah terasa kelu, sesak di dada, dan panas kepala.

“Saya belum punya rumah” kata saya lirih. “Ah yang bener I” kata mereka hampir serempak seakan tak percaya dengan jawaban saya. Mungkin pikir mereka saya ini berbohong, bercanda atau pura-pura saja. Mungkin mereka membathin begini, kerja sudah berpuluh-puluh tahun kok tidak bisa kredit rumah. nggak mungkin.

Pertanyaan serupa pernah juga terlontar dari teman-teman di tempat saya bekerja. Karena tema obrolannya masih sama, lagi pada ngomongin kredit rumah. Lalu tiba-tiba ada yang nanya, “Kalau Massto sudah ngambil rumah(kredit maksudnya) di mana?” “Saya di Pondok Mertua Indah saja”, jawab saya waktu itu. kala itu memang saya jawab sekenanya atau bercanda aja.

Saya memang tidak menjelaskan kepada setiap orang yang bertanya kepapa saya belum punya rumah. Atau menjelaskan alasan kenapa saya tidak ngambil kredit rumah seperti kebanyakan orang. Karena saya pikir kalau momen dan timingnya tidak tepat justru malah kontradiktif dengan maksud dan tujuan saya memjelaskan perkara ini. Makanya kadang saya jawab sekenanya saja.

Tapi di sini, secara ini adalah rumah rumah gue, tangan tangan gue, hak saya dong mau ngomong apa aja. eh mau nulis apa aja.

Bagi saya beli rumah itu perkara gampang, cie lagaknya udah mirip orang kaya aja. Ups ..maaf ya bukannya mau nyombong tapi beneran beli rumah itu gampang asal punya duitnya. hahaha. Nah masalahnya saya itu gak punya uang cash untuk membeli rumah.

Kan bisa kredit to. Nah pasti kalian mau bilang gitu. Nah kalau kredit saya akan lihat2 dulu. bagaimana akadnya atau transaksinya. Kalau tidak ada akad yang bertentangan dengan hukum syara dan tidak ada unsur ribanya, nah baru saya akan lihat dulu cicilan dan uang mukanya saya sanggup bayar atau tidak. Soalnya ini bayar dengan uang bro bukan bayar dengan daun kelor.

Selama saya belum menemukan transaksi yang syar’i, yang tidak ada ribanya, dan selama duit saya belum cukup untuk itu ya saya akan tetap bersabar meskipun tidak memiliki rumah.

Huffttt pertanyaan pertanyaan itu …

Sungguh membuatku gelisah

Apalagi pertanyaan pertanyaan berikut ini yang perlu dalil syara’ bukan asal menjawab


Bagaimana tanggapan anda ?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: