*OLEH : KH. M. SHIDDIQ AL JAWI*

*Tanya :*
Ustadz, mohon penjelasan, apakah penggunaan alkohol untuk _hand sanitizer_ dibolehkan karena penggunaannya termasuk obat? Bagaimana dengan yang berprofesi sebagai dokter atau nurse di RS yang biasa memakai _hand sanitizer_ yang mengandung alkohol? (Ramadhan, Sydney, Australia)

*Jawab :*
_Hand sanitizer_ (pembersih tangan) adalah cairan atau gel yang umumnya digunakan untuk untuk mengurangi agen infeksi pada tangan, misalnya bakteri, virus, dll.

Bahan utama _hand sanitizer_ adalah alkohol (etil alkohol/etanol), yaitu satu jenis alkohol yang biasa didapatkan pada minuman beralkohol. Bahan lainnya isopropil alkohol dan propanol yang merupakan dua jenis alkohol yang biasa ditemukan dalam desinfektan. Konsentrasi alkohol pada _hand sanitizer_ dimulai dari 30% hingga 90%. Dalam kasus Covid-19, WHO menyarankan masyarakat menggunakan _hand sanitizer_ dengan konsentrasi alkohol 60%. Demikian sekilas fakta _(manath)_ dari _hand sanitizer._ Bagaimanakah hukum menggunakannya menurut syariah Islam?

Hukum menggunakan _hand sanitizer_ bergantung pada hukum menggunakan bahan utamanya, yaitu alkohol (etanol/etil alkohol).

Para ulama kontemporer berbeda pendapat mengenai alkohol, apakah dia najis atau suci (tidak najis).

Sebagian ulama kontemporer menghukumi alkohol itu suci berdasarkan asumsi bahwa khamr (minuman beralkohol) itu zat yang suci. (Muhammad ‘Ali Al Bâr, _Al Khamr Baina al Thibb wa al Fiqh,_ hlm. 52; Shâlih Kamâl Shâlih Abu Thâhâ, _At Tadâwi bi Al Muharramât,_ hlm. 54).

Namun, sebagian ulama kontemporer lainnya berpendapat, bahwa alkohol itu najis, berdasarkan asumsi bahwa khamr itu zat yang najis. (Abdul Majîd Mahmûd Shalâhain, _Ahkâm An Najâsât fi Al Fiqh Al Islâmi,_ hlm. 253).

Walhasil, persoalan najis tidaknya alkohol, berakar pada persoalan najis tidaknya khamr. Para ulama sendiri sejak dulu berbeda pendapat mengenai najis tidaknya khamr. Jumhur ulama, di antaranya adalah ulama mazhab yang empat, yaitu mazhab Hanafi, Maliki, Syafi’i, dan Hambali, berpendapat khamr itu najis. Sedangkan sebagian ulama lain, seperti Imam Syaukani, berpendapat khamr itu suci. _(Al Mausû’ah Al Fiqhiyyah Al Kuwaitiyyah,_ 40/93).

Pendapat yang _rajih_ (lebih kuat), adalah pendapat jumhur ulama yang mengatakan khamr itu najis.

Pendapat inilah yang telah dipilih oleh Syekh Taqiyuddin An Nabhani. _(Ahkâmush Sholâh,_ hlm. 15).

Dalil ulama jumhur antara lain, khamr dikategorikan najis (rijsun) dalam firman Allah SWT :

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ إِنَّمَا ٱلْخَمْرُ وَٱلْمَيْسِرُ وَٱلْأَنصَابُ وَٱلْأَزْلَٰمُ رِجْسٌ مِّنْ عَمَلِ ٱلشَّيْطَٰنِ فَٱجْتَنِبُوهُ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

_”Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya khamr, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah najis (rijsun) termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah najis itu agar kamu mendapat keberuntungan.”_ (QS Al Maa`idah : 90).

Berdasarkan pendapat jumhur ulama itu, kami cenderung pada pendapat ulama kontemporer yang berpendapat bahwa alkohol itu najis. (Abdul Majîd Mahmûd Shalâhain, _Ahkâm An Najâsât fi Al Fiqh Al Islâmi,_ hlm. 253).

Maka dari itu, _hand sanitizer_ dihukumi sebagai zat najis atau minimal _mutannajis_ karena sebagian besar komposisinya adalah alkohol yang najis.

Hanya saja, penggunaan zat najis untuk keperluan pengobatan hukumnya tidak haram, melainkan makruh. (Taqiyuddin An Nabhani, _Al Syakhshiyyah Al Islamiyyah,_ Juz III, hlm. 116). Karena Nabi SAW pernah membolehkan berobat dengan meminum air kencing unta. Padahal air kencing unta itu zat najis. (HR. Bukhari, no 231).

Kesimpulannya, penggunaan _hand sanitizer_ meski mengandung alkohol yang najis, hukumnya boleh disertai kemakruhan. Artinya, jika menggunakan hand sanitizer yang tidak beralkohol, akan berpahala di sisi Allah.

Penggunaan _hand sanitizer_ itu juga dibolehkan bagi dokter atau paramedis, sebagai pengobatan preventif (preventive medicine), yaitu dalam kondisi belum terkena infeksi virus, karena Islam membolehkan pengobatan preventif. (Ahmad Syauki Al Fanjari, _At Thibb Al Wiqa’i fi Al Islam_). Wallahu a’lam.

*Yogyakarta, 16 Maret 2020*

*M. Shiddiq Al Jawi*

« Newer Posts - Older Posts »

Kategori

%d blogger menyukai ini: